Breaking News:

Mantan TKW Jadi Pemandu Wisata di Desa

Wati Fasih Bicara Inggris, Arab, dan Kanton

"Tugas beliau (Wati) yang utama adalah menjadi pemandu untuk wisatawan atau peneliti yang riset ke desa ini"

Penulis: M RIZAL JALALUDIN | Editor: Adityas Annas Azhari
Istimewa
Wati (paling kiri), sedang memandu para wisatawan yang merupakan dosen-dosen dari universitas Gunadarma, Depok di Desa Wisata Hanjeli, Desa Waluran, Kabupaten Sukabumi, Sabtu akhir pekan lalu. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, M Rizal Jalaludin

TRIBUNJABAR.ID, SUKABUMI - Beberapa mantan tenaga kerja wanita (TKW) di Desa Waluran Mandiri, Kecamatan Waluran, Kabupaten Sukabumi, beralih profesi menjadi pemandu wisata. Mereka menjadi pemandu wisata di desanya sendiri yang sedang dikembangkan menjadi Desa Wisata Hanjeli (DWH).

"Saya diajak oleh pendiri DWH, Pak Asep Hidayat untuk ikut mengembangkan Desa Wisata Hanjeli," ujar Wati kepada Tribun, di Desa Waluran, Senin (3/8).
Pendiri DWH, Asep Hidayat, mengatakan, ia sengaja mengajak sejumlah mantan TKW atau tenaga migran untuk bergabung mengembangkan DWH.

"Tugas beliau (Wati) yang utama adalah menjadi pemandu untuk wisatawan atau peneliti yang riset ke desa ini," katanya

Menurut Asep, Wati fasih berbahasa Inggris, Arab, dan Kanton sehingga tidak kesulitan memandu wisatawan mancanegara.

“Kebetulan ada dua buruh migran lainnya yang kami siapkan untuk memandu wisatawan internasional," ujar Asep.

Menurutnya, mengangkat TKW menjadi pemandu wisata di DWH yang didirikannya merupakan sebuah tanggung jawab moral bagi dirinya. Hal itu dilakukan untuk mengangkat martabat para mantan buruh migran agar tidak kembali bekerja ke luar negerisebagai TKW.

"Alhamdulillah para mantan buruh migran di Desa Wisata Hanjeli ini kami berdayakan sesuai kemampuannya masing-masing, Ada yang diberdayakan di bidang rumah baca sauyunan, rumah aksesori hanjeli, memasak, dan bidang lainnya," kata Asep.

Desa Wisata Hanjeli mengembangkan wisata pertanian yang juga menjadi ketahanan pangan bagi warga Desa Waluran. Wisatawan yang berkunjung ke desa tersebut tidak saja diperkenalkan dengan budi daya tanaman pangan namun juga bisa memetik langsung sayuran seperti kangkung, pakcoy, sawi, selada, bayam, dan lainnya. Para turis juga bisa membeli bibit sayuran atau membeli sayuran di polibagnya.

"Pekerjaan rumah terbesar kami adalah bagaimana para mantan TKW itu tetap berdaya dan mandiri untuk kebutuhan hidup ke depan. Semoga saja ada banyak yang mau ikut terlibat langsung untuk pemberdayaan ibu-ibu mantan buruh migran demi kelangsungan hidup mereka," kata Asep.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved