Breaking News:

Covid 19

Klaster Perkantoran dan Gedung Sate, Pelajaran bahwa Kita Tak Sekuat yang Kita Duga

Hal yang mengejutkan, 30 persen dari yang terpapar corona di Gedung Sate ini berusia antara usia 20-30 tahun, 40 persen lain berusia 31-40 tahun

muhamad syarif abdussalam/tribun jabar
Gedung Sate genap berusia 100 tahun, 27 Juli 2020. 

ARIEF PERMADI, Jurnalis Tribun Jabar

KEKHAWATIRAN ini akhirnya menjadi kenyataan. Berbagai kelonggaran yang tak dibarengi kedisiplinan berbuah bencana. Setidaknya 40 orang yang bekerja di Gedung Sate, Bandung, dinyatakan positif terpapar corona. Jumlah ini masih sangat mungkin bertambah karena pelacakan belum selesai.

Kondisi ke-40 orang ini diketahui menyusul tes masif yang dilakukan Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 selama tiga hari sejak 27-29 Juli lalu. Hal yang mengejutkan, 30 persen dari yang terpapar corona di Gedung Sate ini berusia antara usia 20-30 tahun, 40 persen lain di rentang usia 31-40 tahun, sisanya di bawah 20 tahun dan di atas 50.

Data tersebut memberikan gambaran bahwa sekalipun mereka yang berusia di atas 50 tahun sangat rentan terpapar korona, mereka yang muda, kuat, dan aktif juga tidak kebal terhadap virus ini.

Kita tentu masih ingat betapa syoknya kita awal Juli lalu saat lebih dari 1.200 prajurit, di Sekolah Calon Perwira Angkatan Darat  ( Secapa AD ), dinyatakan positif terpapar corona. Ini membuyarkan keyakinan bahwa virus tak mampu menjangkiti mereka yang secara fisik dan mental sangat kuat. Sebab, terbukti, para siswa di Secapa AD yang fisik dan mentalnya di atas rata-rata pun ternyata bisa terjangkit.

Kita seharusnya bersedia untuk rendah hari belajar dari kasus itu. Pandemi belum selesai, dan tak ada seorang pun yang kebal pada virus ini sebelum vaksinnya ditemukan.

Kasus Secapa, dan terutama kasus di Gedung Sate, juga memberi kita pelajaran tentang bagaimana virus yang mematikan ini dapat menyebar dengan cepatnya di ruangan yang tertutup dan ber-AC. Kita acapkali waspada, disiplin bermasker saat berada di luar ruangan, di pasar, atau di pertokoan, tapi sering abai saat berada di kantor, di ruangan tertutup yang nyaman, tempat sehari-hari kita bekerja.

Di Jakarta, ini bahkan mulai disebut sebagai klaster baru: klaster perkantoran. Untuk kasus di Gedung Sate, kita mungkin bisa saja mati-matian membantah bahwa yang terjadi adalah klaster. Tapi, puluhan orang yang terjangkit, sekalipun tersebar di sejumlah biro, point-nya sama: abai dalam menerapkan protokol kesehatan.

Menyusul terpaparnya 40 pegawai di Gedung Sate, tracing setidaknya harus dilakukan pada 800-an orang bahkan sangat mungkin lebih.

Kita berharap tracing yang tengah dilakukan tak menghasilkan kasus positif baru, dan rendah hari untuk menjadikan kasus ini sebagai pelajaran bahwa kita tak sekuat yang kita duga. (*)

Penulis: Arief Permadi
Editor: Arief Permadi
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved