Jumat, 24 April 2026

Alasan Kalangan Pesantren Cirebon Minta Dilibatkan dalam Penobatan Sultan Sepuh XV

Cerita masa lalu yang membuat kalangan pesantren di Cirebon meminta dilibatkan dalam penobatan Sultan Keraton Kasepuhan.

Penulis: Ahmad Imam Baehaqi | Editor: Giri
tribunjabar/ahmad imam baehaqi
Sesepuh Pesantren Bendakerep Cirebon, KH Muhtadi Mubarok Soleh 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Ahmad Imam Baehaqi

TRIBUNJABAR.ID, CIREBON - Cerita masa lalu yang membuat kalangan pesantren di Cirebon meminta dilibatkan dalam penobatan Sultan Keraton Kasepuhan.

Jabatan tersebut hingga kini masih kosong setelah berpulangnya Sultan Sepuh XIV, PRA Arief Natadiningrat, pada pekan lalu.

Sesepuh Pesantren Bendakerep, Muhtadi Mubarok Soleh, mengatakan, sosok Sultan Sepuh XV harus bisa mengemban amanah syiar Islam.

Menurut dia, hal itu sesuai sosok Sunan Gunung Jati yang sejatinya merupakan Sultan Cirebon sekaligus ulama.

"Syiar Islam ini bisa bekerja sama dengan pesantren-pesantren yang dulu menjadi penopang Keraton Kasepuhan," ujar Muhtadi Mubarok Soleh saat ditemui di Kompleks Pesantren Bendakerep, Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, Rabu (29/7/2020).

COVID-19 MEROKET LAGI, Jumlah Penambahan di Indonesia Cuma Kalah dari Tiga Negara Lain Hari Ini

Ia mengatakan, Keraton Kasepuhan juga menjadi pusat syiar Islam di masa Sunan Gunung Jati dan melibatkan pesantren-pesantren.

Karenanya, pihaknya meminta siapa pun yang menjadi Sultan Keraton Kasepuhan harus sudah terbiasa bersilaturahmi dengan ulama-ulama pesantren di wilayah Cirebon dan sekitarnya.

"Itu untuk menjalin kerja sama dalam syiar Islam yang sesuai aturan pemerintah RI," kata Muhtadi Mubarok Soleh.

Muhtadi menceritakan sejarah pesantren pada masa Sunan Gunung Jati.

Jadwal Liga Italia Dini Hari, Ronaldo Berjuang Menjadi Top Skor Setelah Antarkan Juventus Juara

Kala itu, pesantren disebut dengan istilah peguron, kemudian Sunan Gunung Jati menggantinya menjadi pesantren.

Peguron merupakan tempat para petugas kerajaan yang diberikan tugas untuk menyebarkan agama Islam di berbagai wilayah.

"Dulu ada peguron Buntet, dan lain-lain, alasan itulah kenapa keraton dan pesantren dikatakan bersenyawa," ujar Muhtadi Mubarok Soleh. (*)

Sumber: Tribun Cirebon
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved