Breaking News:

Sepabola

  Fase Gelap Sepakbola Indonesia, Demi Kepentingan Sesaat, Umur pun Dipalsu

"KOK tim nasional kita cuma hebat di junior aja sih?" Kita sangat sering mendengar kalimat tanya seperti itu. Mengapa?

   Fase Gelap Sepakbola Indonesia,  Demi Kepentingan Sesaat, Umur pun Dipalsu
istimewa
M.Nigara wartawan sepakbola senior

 TRIBUNJABAR.ID

"KOK tim nasional kita cuma hebat di junior aja sih?" Kita sangat sering mendengar kalimat tanya seperti itu. Baik dari orang awam maupun dari kalangan sepakbola.

Ya, di level junior, sepakbola kita memang lumayan baik. Tahun 1961, tim nas kita dan Burma (sekarang Myanmar) sempat menjadi juara Asia Junior bersama. Tahun 1979 tim nasional kita ikut putaran final Piala Dunia Junior, Tokyo, Jepang, 1979. Dan, tahun 1988, tim nas kita juga menjadi juara Asia Coca Cola Under 16 (cikal bakal Kejuaraan kelompok umur AFC).

Tapi, begitu naik ke senior, kita selalu gagal dalam event resmi. Memang di tingkat senior kita pernah tampil sebagai jawara, bahkan pernah terjadi all Indonesian final PSSI A dan PSSI B di
Pesta Sukan, Singapura 1972.
Baik Merdeka Games maupun Pesta Sukan bukanlah ajang resmi. Dulu, hampir setiap negara memiliki turnamen-turnamen seperti demikian. Ada Piala Raja (Thailand), Piala Presiden (Korsel), Merlion Cup (Singapura) dan Jakarta Anniversary Cup (Indonesia). Pada masanya turnamen-turnamen itu cukup bergengsi, tapi, tetap saja bukan event resmi.

Pokoknya
"Pokoknya harus sukses!". Nah, kalimat pendek seperti ini juga sering kita dengar. Malah, saya merasa kalimat itu sudah menjadi seperti moto bagi sepakbola kita. Kalimat itu, sesungguhnya adalah 'titah' yang diucapkan oleh banyak tokoh (pemimpin) yang memakai sepakbola sebagai alat. Tujuannya hanya satu: Di masa dia memimpin, ada prestasi yang bisa diraih. Dari sana diharapkan elektabilitas sang tokoh ikut moncer.

Sebagai orang yang di bawah, jika titah dari atasan sudah keluar, maka, apa saja pasti dilakukan. Di sinilah persoalan itu terjadi. Dengan kalimat pokoknya harus sukses, maka bukan jalan lurus yang ditempuh. Akibatnya, proses yang seharusnya menjadi basis utama, justru tak pernah terbangun.

Saya sengaja memilih tema ini karena sahabat saya dari Makassar, Syamsuddin Umar sudah memulainya. Dengan sahabat saya yang satu ini, kami punya cerita khusus terkait wasit Ika Mariska, Yanita Utama dan Makassar Utama. Insyaa Allah ada episodenya nanti.

Bukan hanya SU, begitu saya menyapanya dan dia menyapa saya mn, inisial saya saat menulis berita di harian Kompas (1981-84) dan BOLA (1984-90), Erol Iba, mantan pemain nasional yang pernah membawa Arema sukses, ikut pula berkomentar. Saya yakin banyak pihak yang juga ikutan bicara.
Curi umur
Pencurian umur dan pemalsuan data diri adalah langkah paling mudah. Dulu, langkah itu dilakukan berulang-ulang tanpa rasa bersalah.

Beruntung saat ini langkah itu telah dipersulit oleh AFC dan FIFA. Mereka menerapkan metode pemeriksaan MRI  (Magnetic Resonance Imaging). Pemeriksaan ini menggunakan teknik pengambilan gambar detail organ dari berbagai sudut yang menggunakan medan magnet dan gelombang radio. Metode ini dapat menghasilkan gambar organ yang lebih jelas, termasuk untuk pemeriksaan tumor.

Dulu, saat pembuktian usia hanya dari paspor, banyak negara melakukan itu. Indonesia? Ya, tentu saja ada di dalamnya. Bahkan kita tidak tanggung-tanggung dalam memalsu. Ada pemain yang lahir tahun 1967, dimainkan untuk tim under 16, pada tahun 1988. Ya, anda benar anak itu sudah 21 tahun.

Halaman
12
Editor: Tatang Suherman
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved