Breaking News:

Kurnia Agustin Prihatin Ada Kasus Pembunuhan Anak Tiri yang Terjadi di Kabupaten Bandung

P2TP2A Kabupaten Bandung sangat prihatin dengan adanya pembunuhan kepada Aulia (5) yang dilakukan ayah tirinya, Hamid (25).

Penulis: Lutfi Ahmad Mauludin | Editor: Giri
Tribun Jabar/Lutfi Ahmad Mauludin
Kepala P2TP2A Kabupaten Bandung, Kurnia Agustin 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Lutfi Ahmad Mauludin

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Bandung sangat prihatin dengan adanya pembunuhan kepada Aulia (5) yang dilakukan ayah tirinya, Hamid (25). Peristiwa yang terjadi di Cicalengka, Kabupaten Bandung, menggemparkan karena jasad Aulia ditemukan di toren.

"Di tengah situasi masyarakat yang tidak mudah seperti saat ini (akibat adanya Covid-19), mungkin himpitan tekanan ekonomi yang ada di keluarga salah satu pemicu," ujar Kepala P2TP2A Kabupaten Bandung, Kurnia Agustin, di Bojong Asih, Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Rabu (22/7/2020).

Nia mengungkapkan, keluarga yang terdiri atas teman-teman pengamen dan anak-anaknya turun ke jalanan ini terimbas akibat disharmon yang terjadi dalam rumah. Memang, keluarga korban merupakan keluarga pengamen.

"Apalagi ini intrik ayah tiri dan sebagainya, sehingga menewaskan anak tiri. Buat saya, apa pun alasannya ketika menyangkut urusan nyawa dan ini anak, itu sangat disesalkan," kata Nia.

Nia mengatakan, informasi yang dikumpulkannya, sebenarnya pembinaan terhadap para pengamen di jalan ini telah dilakukan oleh dinas terkait, sebut saja Dinas Sosial.

"Tapi masalah karakter menjadi pemicunya, perubahan karakter yang dirasakan teman pengamen yang mendapatkan pembinaan hanya bertahan satu bulan. Selebihnya mereka lebih senang ke cara instan turun lagi ke jalan," tuturnya.

Nia mengungkapkan, hal itu jadi pemicu dan bahan masukan di tingkat masyarakat level manapun perlu mendapat sentuhan dan perhatian.

"Agar semuanya menyadari bahwa situasi yang terjadi sekarang ini, harusnya dicarikan solusi bersama dilandasi juga dengan hati yang terbuka dan open mind agar bisa menerima masukan, saran, dan informasi," kata dia.

Nia menjelaskan, untuk solusinya pihaknya punya program, yakni ketahui anak bermain, cari tahu dengan siapa bermain, cari tahu permainan apa yang dimainkan, dan libatkan ayah dalam pengasuhan.

"Ternyata pesan ini tidak semuanya bisa diterjemahkan, belum semuanya bisa dicerna, ini menjadi tantangan bagi P2TP2A. Kembali mengingatkan kepada semua pihak, agar mengawasi supaya Kabupaten Bandung menjadi kabupaten layak anak. Tentu pengawasan akan lebih ditingkatkan," ucapnya. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved