Ini Alasan Kenapa Indonesia Ambil Vaksin dari Cina untuk Diuji Klinis di Bandung

Ketua Tim Riset Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad), Kusnandi Rusmil, membeberkan alasan Indonesia mengambil vaksin Covid-19 dari Cina

Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam | Editor: Giri
NICOLAS ASFOURI / AFP ILUSTRASI
ILUSTRASI - Foto diambil pada tanggal 29 April 2020 ini. seorang ilmuwan melihat sel-sel ginjal monyet saat melakukan tes pada vaksin eksperimental untuk virus corona COVID-19 di dalam laboratorium Cells Culture Room di fasilitas Sinovac Biotech di Beijing. Sinovac Biotech, yang melakukan salah satu dari empat uji klinis yang telah disetujui di China, telah mengklaim kemajuan besar dalam penelitiannya dan hasil yang menjanjikan di antara monyet. Kota Bandung akan melakukan uji klinis vaksin Covid-19 dari Cina. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Syarif Abdussalam

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Ketua Tim Riset Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad), Kusnandi Rusmil, membeberkan alasan Indonesia mengambil vaksin Covid-19 dari Cina untuk diuji klinis di Kota Bandung. Hal ini untuk mempercepat produksi vaksin Covid-19 di Indonesia.

Kusnandi mengatakan, penyakit ini pertama kali merebak di Cina. Saat merebak, Cina telah memulai penelitian tentang vaksin lebih dulu dibandingkan negara lainnya.

Sampai saat ini, katanya, baru Cina yang sudah melakukan penelitian tentang vaksin tersebut mulai dari fase 1 sampai fase 2. 

"Tempat lain baru mulai di fase 1. Kalau yang lain, nanti hasilnya lebih lama lagi karena bahan yang kami pakai ini adalah virus yang dimatikan. Jadi virus Covid-19 yang dimatikan," kata Kusnandi di Rumah Sakit Pendidikan Unpad, Rabu (22/7/2020).

Untuk menjadi vaksin, katanya, harus ada penelitian yang panjang, mulai dari preclinical trial dan clinical trial. Preclinical trial berarti melakukan mencari antigennya. Indonesia sebenarnya sudah mulai mencari antigennya juga. 

Vaksin yang akan digunakan dalam pengujian, katanya, secara fisik dan kimia sudah stabil. Kalau sudah stabil, vaksin ini diujicobakan kepada binatang.

Jika berhasil dicoba pada binatang, dan ternyata vaksin ini aman pada binatang dan membentuk zat anti, baru boleh dilakukan pada manusia pada fase 1.

"Akhirnya masuklah fase 1 pada manusia. Fase 1 pada manusia itu sudah bisa diuji coba ke 50 orang sampai 100 orang. Gunanya untuk melihat bahwa vaksin ini aman atau tidak," katanya.

Setelah fase 1 berhasil, hasil ilmiahnya harus dipublikasikan secara internasional, masuk ke majalah ilmiah, masuk ke WHO untuk bisa diakses semua orang di dunia.

"Kemudian, masuklah pada fase 2, yakni jumlah subjek uji yang digunakannya sampai 400 orang. Ini juga untuk melihat keamanannya dan juga untuk melihat efektivitas. Ini juga sudah dilakukan di Cina. Di luar memang ada yang banyak lakukan penelitian, tapi belum bisa dipakai, belum sampai fase ketiga, baru mau masuk fase 1 dan 2. Yang bisa fase 3 baru Cina," katanya.

Setelah fase 2 ini berjalan baik, katanya, barulah masuk fase 3 supaya vaksin ini boleh dijual jika lolos fase 3. Dalam fase 3 ini, katanya, di samping dilihat keamanannya, juga dilihat efektivitasnya dan harus multisenter.

"Fase 3 vaksin ini secara multisenter dilakukan di Amerika Latin, di India, di Bangladesh, di Indonesia, Brasil, dan di Cile. Jadi di beberapa negara ini, hasilnya dijadikan satu. Jika aman, maka vaksin ini boleh dijual. Jadi keamanannya sudah di coba berkali-kali," katanya.

Sebanyak 1.620 warga Bandung Raya akan direkrut untuk menjadi sukarelawan uji klinis vaksin Covid-19 yang dilakukan oleh tim riset Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad) bersama Bio Farma dan Sinovach Biotech Tiongkok.

Halaman
123
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved