Breaking News:

Akses Masuk Kota Bandung Lewat Selatan Ditutup, Buruh dan Pedagang Tujuan Pasar Induk Merana

Pemberlakuan penutupan jalan lingkar selatan sejak Sabtu (18/7/2020) oleh Satlantas Polrestabes Bandung

Penulis: Mega Nugraha | Editor: Ichsan
ery chandra/tribun jabar
Suasana penutupan akses jalan di Kota Bandung. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Mega Nugraha

TRIBUNJABAR.ID,BANDUNG - Pemberlakuan penutupan jalan lingkar selatan sejak Sabtu (18/7/2020) oleh Satlantas Polrestabes Bandung menuai beragam tanggapan sejumlah warga.

Bagi yang merespon dengan negatif, mereka, warga Kota Bandung yang kerap pulang pergi untuk bekerja‎ di sejumlah kawasan industri di Kabupaten Bandung. Umumnya wilayah Dayeuhkolot dan sekitarnya yang memberlakukan pembagian tiga shift kerja dalam 24 jam.

"Saya rumah di Melong Karapitan, kerja di Palasari. Kadang suka shift siang pulang malam lewat Jalan Mohammad Toha. Kalau ditutup, harus memutar ke Jalan Ibrahim Adjie sampai ke Karapitan‎," ujar Panji Kurniawan (37), ditemui di Kampus Universitas Langlangbuana Bandung, Jalan Karapitan, Minggu (18/7/2020).

Nah, hal senada juga dikatakan warga yang berprofesi sebagai pedagang di pasar satelit di sekitar Kota Bandung. Nanang Suganda (50) misalnya. Ia pedagang daging ayam di Pasar BTM, Jalan Ibrahim Adjie. Biasanya, ia belanja daging di Pasar Induk Caringin.

15 Kecamatan di Kota Bandung Jadi Zona Biru, tapi 16 Kecamatan Masih Zona Merah, Nih Perinciannya

"Saya tinggal di Cicadas, jualan di Pasar BTM, dagang daging ayam. Jam 01.00 dinihari belanja barang jualan ke Pasar Caringin. Kalau jalan ditutup gimana, malah makin jauh memutarnya," kata Nanang.

Bagi Panji dan Nanang, mereka sepakat, semakin jalan menuju tujuan jadi lebih jauh memutar, waktu tempuh semakin lama. Semakin lama waktu tempuh di tengah malam, mereka was-was ketemu begal.

"Misalnya nih saya keluar pabrik jam 22.00. Kalau ke Karapitan pilihannya harus lewat-lewat gang, tapi gang banyak yang ditutup. Harus memutar ke Jalan Jakarta-Ahmad Yani semakin jauh, hariwang (khawatir) begal kang ‎kalau malam hari," ujar dia.

Nanang mengatakan hal yang sama. Ketakutannya hanya soal keamanan saja jika harus berputar jauh menuju lokasi tujuan.

"Kecuali kalau ada petugas di setiap jalan yang ditutup. Jadi warga yang benar-benar berkepentingan setidaknya ada bahasa izin melintas, karena mau belanja ke pasar," kata Nanang.

Lomba Mancing di Kuningan Ini Unik, Uang Pendaftarannya untuk Rampungkan Pembangunan Masjid

Kebijakan penutupan jalan tidak lepas dari aktivitas warga yang doyan nongkrong sampai tengah malam di Kota Bandung di tengah pandemi Covid-19. Menurut Solihin (46), sesama pedagang Pasar BTM, rekan Nanang, menuturkan, eharusnya warga sadar diri.

"Lagi musim gini mah harusnya jangan nongkrong-nongkrong atuh ya. ‎Gara-gara banyak nongkrong, jalan ditutup, orang susah kaya saya yang pedagang, yang engak pernah nongkrong, jadi susah," kata dia.

Bagi yang setuju penutupan, dalihnya sesuai dengan kata pemerintah.

"Nongkrong sih boleh-boleh saja, asal tahu waktu masa sampai tengah malam. Jadi kayanya bakal efektif kalau penutupan jalan tengah malam, orang enggak akan banyak nongkrong," ujar Wahyu Nasution, karyawan swasta warga Melong, Jalan Karapitan Kota Bandung.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved