Cerpen

Sepotong Pagi Jatuh ke Dalam Cangkir dan Tenggelam

Kau pasti tak percaya ini. Aku tak dipecat oleh kantor. Tapi aku dikeluarkan dari kantor dan meringkuk sendirian di kamar isolasi sialan ini.

Editor: Hermawan Aksan
Tribun Jabar
Ilustrasi Cerpen Belum Ada Judul 

Setelah berhenti bekerja, kuputuskan untuk menepi ke sebuah kota kecil di kaki gunung, sebagaimana yang pernah kuangankan. Sebuah kamar kontrakan di lantai dua dengan jendela besar yang menghadap pegunungan, menjadi pilihanku.

Kumulai segala yang telah kurencanakan pada suatu pagi yang masih berselimut kabut. Cahaya matahari masih samar-samar. Wangi dedaunan kuhirup dalam-dalam. Pagi adalah saat yang tepat menikmati secangkir minuman hangat dengan sepotong jahe memar di dalamnya, lalu memandang cahaya matahari tenggelam di dasar cangkir. Kata Rana. Kukibaskan tangan cepat-cepat. Kuputuskan untuk membuang seluruh kenangan tentang Rana jauh-jauh, toh mengenangnya juga hanya akan terasa sia-sia. Untuk apa? Toh ponsel sudah kumatikan sejak keluar dari kantornya dan kuganti SIM card ponselku kemudian agar suaranya tak lagi berdengung di telinga.

Kuletakkan cangkir teh hangatku di meja. Ah, aku masih menuruti kata-katanya, bukan? Bodoh. Membuka dan menyalakan laptop, menyetel musik pelan, lalu berdiri di depan jendela yang terbuka lebar. Memandang segala yang hijau membuat pikiranku tenang. Tentu ini bukan tentang penyesalan akan sebuah cerita cinta yang bertepuk sebelah tangan. Namun berdamai terhadap tindakan merendahkan, melecehkan, dan melucutkan harga diri seorang perempuan. Aku tertawa kecil. Ah, satir betul hidupku. Sarjana hukum yang lumpuh karena cinta.

Tapi Rana masih meringkuk di kepala, bergantung di pelupuk mata. Tiba-tiba aku gelisah. Kubongkar tasku dan kuraih dompet merah di dalamnya. Kujumput sebuah SIM card di salah satu kantong penyekatnya. Cepat-cepat kumasukkan ke ponsel. Menunggu sejenak, sebelum beruntun nada pemberitahuan pesan mengalir ke layar ponsel. Kutelusuri dengan cermat. Rana, Rana, Rana. Ada puluhan pesannya yang tak terbaca. Kubuka pesan yang paling akhir. Mendadak pandanganku mengabur, tanganku gemetar, ponselku terlepas dari genggaman, meluncur dan berakhir dengan bunyi "deg" di bibir cangkir. Cangkir limbung, teh hangat tumpah mengalir ke ujung kakiku. Bersama sebulir air mata yang menitik lamban.

Kau pasti tak percaya ini. Aku tak dipecat oleh kantor. Tapi aku dikeluarkan dari kantor dan meringkuk sendirian di kamar isolasi sialan ini. Berteman obat-obatan, slang infus, dan tenaga medis berseragam astronot yang tak mendengar dengan jelas apa yang kuucapkan. Aku merindukan teh chamomile-mu. Tapi itu tak mungkin lagi. Entah kapan kita bisa bertemu. Namun di dunia, di surga, atau di neraka sekalipun, aku akan berusaha menemuimu. Terlalu banyak salahku padamu, kan? Emotikon tertawa. Emotikon tertawa. Emotikon tertawa.

Aku menangis dan menjerit sekencang-kencangnya.

***

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved