Cerpen

Sepotong Pagi Jatuh ke Dalam Cangkir dan Tenggelam

Kau pasti tak percaya ini. Aku tak dipecat oleh kantor. Tapi aku dikeluarkan dari kantor dan meringkuk sendirian di kamar isolasi sialan ini.

Editor: Hermawan Aksan
Tribun Jabar
Ilustrasi Cerpen Belum Ada Judul 

Aku tak mendengar apa-apa lagi begitu pintu kayu jati berukir itu kututup dari luar. Tapi aku yakin ia masih terus berbicara, dengan tangannya yang menuding-nuding ke kaca jendela. Lalu lima menit kemudian ia akan melihat tubuhku menyeberangi jalan raya di bawah, di depan kantornya, berhenti bicara, terdiam lima menit, tersadar dan buru-buru mengejar sepuluh menit kemudian. Terlambat. Karena saat itu aku sudah memasuki taksi online yang tergesa-gesa, dengan sopir bermasker yang tak merasa perlu lagi mengucapkan salam. Berdiam-diaman sepanjang perjalanan. Ia memikirkan sunyinya jalanan, sunyinya orderan, dan sedikitnya uang yang masuk ke genggaman. Sedangkan aku, dengan masker membekap wajah, terus memikirkan seorang lelaki yang saat ini tengah sibuk mengutuki diri di depan kantornya sembari terus menghubungi ponselku yang mati.

"Jangan pernah jatuh cinta padaku. Meskipun kau memenuhi 80 persen dari kriteriaku, kita tak mungkin bisa bersatu," katamu saat itu. Aku mengangguk pelan sembari bersusah-payah menelan makanan.

Tapi aku memungkirinya. Bagaimana mungkin aku tak jatuh cinta padanya, lelaki angkuh yang ternyata sangat membutuhkan perhatian di balik sederet keluhannya. Aku merawatnya ketika darah tingginya kambuh di kantor dan mengantarnya pulang ke rumahnya yang sepi. Begitu pula saat asam uratnya mendadak menyerang tatkala kami baru menghabiskan setengah mangkuk tom yam. Kubuatkan ia secangkir teh chamomile panas dan kupijat lehernya pelan-pelan sebagai terapi. Ia tidur di sofa dan aku tertidur di karpet biru tebal berbantal lengannya.

Tentu, esoknya ia terjaga lebih dulu dan membiarkan matahari yang menerobos kaca jendela membangunkanku dengan kehangatannya.

"Pemalas. Perempuan itu tak boleh bangun belakangan dari lelaki. Masa aku yang membuatkan sarapan untukmu?" Ia mengomel sembari meletakkan dua cangkir teh dan roti sobek cokelat. Aku memandangnya dengan dongkol.

Aku cepat-cepat membersihkan diri, menyeruput teh, dan bersiap pergi. Ke mana? Kau mematikan televisi dan menyusulku yang melangkah terburu-buru.

"Kurasa kau sudah sehat dan tak membutuhkanku lagi. Jadi aku bisa pergi sekarang." Kukenakan sepatu botku dan kusampirkan tas ke bahu.

Kuantar. Tunggu di sini. Ia memberi perintah dengan telunjuknya yang tak memberi izin untukku melangkah melewati pintu. Selalu begitu. Ia yang berkuasa.

Ia mengantarku dengan wajah gembira. Menyampaikan rasa tak percayanya tentang aku yang mau bersusah payah mengantar dan merawatnya. Tapi tak ada ucapan terima kasih yang meluncur dari bibir tipisnya. Selanjutnya, ia malah bercerita tentang para mantan kekasihnya, yang salah seorang digambarkan sebagai janda kaya, cantik, dan semok yang ingin meminangnya, tapi ia tolak karena tak sudi diremehkan, namun pada detik berikutnya ia katakan menyesal telah memutuskannya. Mobil yang dikendarainya malah melewati rumah janda kaya itu dan ia menunjukkan sebuah rumah besar sebagai kediaman kekasihnya. Aku manggut-manggut. Ada yang berdenyut ngilu di sudut hatiku.

Lalu kami berhenti di perjalanan untuk sarapan. Dua piring lontong sayur dengan sayur tauco yang tak pedas sama sekali, tapi mendadak membuatku tersedak ketika ia bercerita tentang seorang perawat yang menjadi kekasihnya kesekian, yang dicintainya dengan sepenuh hati tapi kemudian pergi dengan lelaki lain. Terdorong dendam hati didekatinya kembali perempuan yang konon katanya sudah direstui orang tuanya, ditiduri, kemudian ditinggalkan begitu saja. Mana mau aku menikahi perempuan yang sudah disentuh lelaki lain, katanya. Tapi ia mengaku menikmati momentum itu dan masih mengingat persis detailnya. Aku terbatuk-batuk cukup lama tersebab keliaran kisah cintanya. Dan ia begitu cemas melakukan berbagai upaya agar batukku segera reda.

Mobilnya berhenti di depan rumah dan ia turun lebih dulu membukakan pintu untukku. Terima kasih, kataku.

"Kau tak menyuruhku masuk?"

"Untuk apa?" sergahku.

"Bertemu calon mertua." Ia terbahak-bahak oleh sebab yang tak kuketahui lucunya. Tawanya tak berhenti meski pintu kubanting keras di depan wajahnya dan Ibu menatapku curiga.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved