Breaking News:

Cerpen

Sepotong Pagi Jatuh ke Dalam Cangkir dan Tenggelam

Kau pasti tak percaya ini. Aku tak dipecat oleh kantor. Tapi aku dikeluarkan dari kantor dan meringkuk sendirian di kamar isolasi sialan ini.

Tribun Jabar
Ilustrasi Cerpen Belum Ada Judul 

Oleh R. Yulia

PADA pagi hari itu aku lupa menyisir rambut setelah keramas. Di situ masalahnya. Kata Rana, rambut yang basah, dengan ujung-ujung rambut yang masih menyimpan bulir air, adalah sebuah ketakpantasan untuk penampilan seorang perempuan yang menahbiskan diri sebagai seorang profesional. Orang-orang akan menandainya sebagai perempuan liar. Yang membuat lelaki-lelaki yang melihatnya berfantasi ke mana-mana.

Ah, itu kesimpulan yang paling bodoh yang pernah kudengar dari bibirmu, kataku.

Kau tak percaya?

Aku menggeleng dan mencibir. Lalu, lagi-lagi larut dalam kesedihan tatkala ingat kata-kata yang diucapkan lelaki berkacamata yang sejam lalu ada di hadapanku.

Apa katanya?

Ia bilang, untuk sementara ini aku tak perlu datang ke kantor. Selain karena sedang tak ada kerjaan, juga karena perusahaan sudah tak sanggup membayar.

Jadi mereka memecatmu?

Aku mengangguk. Lalu kau sibuk mondar-mandir di ruangan kotak yang begitu dingin ini dan memaparkan panjang lebar prinsip keadilan, kesetaraan gender, hak dan kewajiban, peraturan kerja, dan apa-apa saja yang menurutmu pantas diperjuangkan agar aku berubah status; dari dipecat menjadi diberhentikan dengan hormat.

Aku tertawa geli di dalam kesedihanku. Ah, kau tentu tak tahu bahwa aku tak sepenuhnya sedih dengan pemecatan itu. Biasa-biasa saja. Bekerja atau tak bekerja, aku biasa-biasa saja. Masih ada sedikit uang yang bisa kugunakan untuk membiayai hidupku di masa susah ini. Kalaupun tidak, aku bisa menepi ke kampung. Menjadi tenaga paruh waktu di kantor desa, menjadi penyuluh, menjadi guru di sekolah-sekolah terbuka, atau aku bisa menanam apa saja di sepetak tanah, yang di sampingnya kubuatkan kolam ikan kecil. Semua itu cukup untuk memenuhi kebutuhan sejengkal perutku. Bukan, bukan soal itu yang kucemaskan. Sesungguhnya aku mencemaskan dirimu.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved