Breaking News:

Virus Corona di Jabar

Vaksin Virus Corona Belum Ditemukan, Mantan Wapres Jusuf Kalla: Pakai Masker Sampai 3 Tahun ke Depan

Jusuf Kalla mengatakan, nasib orang saat ini berada di tangan saintis, melalui vaksin Covid-19 yang akan mereka ciptakan.

Tribunnews.com/ Rina Ayu
Jusuf Kalla di Kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (26/3/2019). 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pandemi Covid-19 di dunia bahkan Indonesia tidak bisa dipredeksi kapan akan berakhir.

Sementara, vaksin untuk virus corona ini masih berada dalam tahap pengujian dan belum bisa diproduksi massal.

Kondisi ini akan berpengaruh kepada kegiatan masyarakat. Diperkirakan, penggunaan masker masih harus dilakukan selama 2 hingga 3 tahun ke depan.

Mantan Wakil Presiden Indonesia, Jusuf Kalla mengatakan, nasib orang saat ini berada di tangan saintis, melalui vaksin Covid-19 yang akan mereka ciptakan.

Jenderal Andika Perkasa Sebutkan Kesulitan Kerjakan Perintah Prabowo, Jelaskan Pasien di Secapa AD

Waktu yang dibutuhkan untuk kembali normal setelah vaksin ditemukan sekitar 2-3 tahun.

“Setelah vaksin ditemukan akan diuji klinis sekitar awal tahun depan. Setelah itu baru bikin atau memperluas pabrik. Lalu baru produksi masal. Jadi selama itu (2-3 tahun) harus siap-siap pakai masker,” kata Jusuf Kalla pada kegiatan Webinar Series SBM ITB, From Surviving to Thriving: Business After Covid-19, Sabtu (11/7/2020).

Menurutnya, setelah vaksin berhasil, ekonomi pun akan kembali normal. Karena masyarakat sudah tidak takut untuk keluar rumah dan melakukan berbagai aktivitas.

Ia menilai dampak pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) berbeda dengan Krisis Moneter di Indonesia. Krisis Moneter 1998 hanya terjadi di beberapa negara yakni Indonesia, Thailand, dan Korea. Malaysa juga ikut terimbas, namun sedikit. Itupun segera bisa diatasi.

Lokasi Mobil Dinas Wapres Maruf Amin Mogok Ternyata di Sukabumi, Paspamres Langsung Bikin Pagar

"Namun Covid-19 melanda hampir seluruh negara di dunia. Jadi, ketika dulu Indonesia meminta bantuan pada IMF, Jepang, atau negara-negara Eropa, kini tidak bisa. Sehingga timbul suatu kemandirian bangsa. Itu yang harus dijaga. Kita pasti bisa,” katanya.

Dampak positif yakni menumbuhkan kemandirian bangsa dibuktikan oleh salah satu perusahaan yang bergerak dibidang otomotif. CEO of Dharma Group, Irianto Santoso mengatakan, Covid-19 memukul industri otomotif. Tak terkecuali industri komponen otomotif yang dipimpinnya.

Kondisi ini pun membuat supply chain terganggu. Komponen yang seharusnya impor, sulit didapatkan hingga perusahaannya menghadapi kendala. Namun agar perusahaan tetap berjalan,pihaknya melakukan terobosan dengan berinovasi ini untuk membuat komponen lokal dari fasilitas milik sendiri. “Kami akhirnya buat sendiri dan ada yang kerja sama dengan suplier,” katanya. (siti fatimah)

Penulis: Siti Fatimah
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved