Selasa, 12 Mei 2026

Ropih, Pelukis Asal Jalan Braga ini Tetap Mengajar, Menjadi Guru hingga Hari Tua

ROPIH Amantubillah, pelukis asal Jalan Braga, adalah seorang guru. Dia menempuh pendidikan di Sekolah Pendidikan Guru, lulus pada 1979.

Tayang:
Editor: Januar Pribadi Hamel
Tribun Jabar/Januar P Hamel
Ropih Amantubillah, Pelukis Asal Braga Bandung. 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Ropih Amantubillah, pelukis asal Jalan Braga, adalah seorang guru. Dia menempuh pendidikan di Sekolah Pendidikan Guru, lulus pada 1979.

Pada tahun itu pula ia mulai mengajar SD mengikuti Mumu Mitra, sang ayah, yang juga menjadi guru.

Dalam laman lukisanropih.tripod.com, Ropih disebut pernah mengajar di SD Pelesiran.

Dia menjalani profesi guru sambil melukis. Ropih berlanjut mengajar seni rupa di SMP dan SMA Pasundan.

MUI Jabar Susun Pelaksanaan Pemotongan Hewan dan Pembagian Daging Kurban di Masa Pandemi

Jiwa mengajar masih dicurahkan Ropih kepada anak didiknya sekarang. Dia membimbing 10 pelukis di Rumah Seni Ropih.

Ropih mendidik murid-muridnya mulai dari berkarya melukis hingga bisa menjualnya.

"Yang belajar di sini orang lain, saudara, dan keponakan," kata Ropih, di Rumah Seni Ropih, Jalan Braga, Kota Bandung, Selasa (30/6).

Ropih mengaku selalu memberikan motivasi kepada anak didiknya untuk mencontoh pohon pisang. Pohon pisang itu, kata Ropih, tidak akan mati sebelum berbuah.

"Silakan saja tebang, pasti jadi lagi, tapi setelah berbuah dan meninggalkan anak cucunya, baru dia mati. Itu pohon pisang," kata Ropih.

Satu di antara murid Ropih adalah Anto Suhartono. Warga Buahbatu ini mengaku banyak belajar dari Ropih.

"Saya sering jalan-jalan ke sini dan mampir ke sini. Saya memperlihatkan lukisan saya.

"Ternyata Bapak Ropih berminat. Terus katanya, sudah aktif saja di sini. Saya dikasih peralatan dari Rumah Seni Ropih, rame-rame sama seniman lain," kata Anto di Rumah Seni Ropih, Selasa (30/6).

Di sini, kata Anto, tempat berkumpul para pelukis. Pelukisnya bermacam-macam tema dan aliran, seperti pasar dan pemandangan. Mereka, kata Anto, datang sendiri dan sudah saling kenal.

"Saya alirannya realis, melukis yang sebenarnya. Terus saya pilih temanya kota-kota tua. Di Bandung saya pernah melukis Jalan Braga, Gedung Sate, Gedung Merdeka, Toko De Vries (sekarang Bank OCBC NISP) di Jalan Asia Afrika, Pasar Baru, dan banyak lagi," kata Anto.

Tempat melukis di Rumah Seni Ropih, Jalan Braga, Kota Bandung.
Tempat melukis di Rumah Seni Ropih, Jalan Braga, Kota Bandung. (Tribun Jabar/Januar P Hamel)

Biasanya para pelukis berkumpul dan melukis di sini. Namun, karena kondisi pandemi virus korona, para pelukis itu memilih pulang. Mereka berasal dari Cipatik, Majalengka, Garut, Tasikmalaya, dan Bandung.

"Mereka Baru ke sini kalau lukisannya sudah selesai," kata Anto.

Anto merupakan pelukis yang mendapat perlengkapan melukis dari Rumah Seni Ropih. Anto harus menyelesaikan lukisannya kemudian disetor ke Rumah Seni Ropih. Anto mengaku tidak mengetahui harga lukisan yang dijual di galeri.

Menurut Gina, pengelola galeri Rumah Seni Ropih, yang juga putri Ropih, para pelukis binaannya ada yang melukis di rumah dan baru menyetorkan kalau sudah selesai.

"Saya kasih kanvas, kasih cat, dan upah kerja saja. Cuma bisa dikerjain di sini bisa dikerjain di rumah. Upahnya beda-beda, tergantung senimannya," kata Gina di Rumah Seni Ropih, Selasa (30/6).

Gina memiliki kriteria sendiri untuk memilih pelukis yang mendapat fasilitas dari Rumah Seni Ropih. Gina melihat dulu pelukisnya, bisa dipercaya atau tidak.

"Kalau sudah dipercaya dan kualitasnya bagus, ya, dikasih kanvas dan cat. Yang selewat mah enggak. Dan tentunya lukisannya juga harus laku," kata Gina.

GALERI - Galeri lukisan di Rumah Seni Ropih di Jalan Braga, Selasa (30/6).
GALERI - Galeri lukisan di Rumah Seni Ropih di Jalan Braga, Selasa (30/6). (TRIBUN JABAR/JANUAR PH)

Lukisan Ropih Mendunia

Lukisan buatan Braga terkenal ke mancanegara. Tak terkecuali lukisan Ropih Amantubillah (61).

Abah Ropih menjual lukisannya hingga ke Spanyol, Inggris, Amerika, dan Brasil.

"Kalau lukisan saya banyak pembelinya dari berbagai warna negara," kata Abah Ropih di Rumah Seni Ropih, Jalan Braga, Kota Bandung, Selasa (30/6).

Menurut Ropih, Braga adalah destinasi wisata yang pengunjungnya banyak yang datang dari mancanegera.

"Sedikitnya yang datang ke sini itu berasal dari lima negara," kata Ropih.

Ropih menjual lukisannya mulai harga Rp 10 juta sampai Rp 100 juta. Namun, kata Ropih, lukisannya tidak melulu dinilai dengan uang. Tergantung penilaian orang yang menyenangi karyanya.

"Saya pernah menjual lukisan hingga Rp 150.000.000. Dulu, pas lagi belajar pernah menjual lukisan Rp 500.000," katanya.

Lukisan Ropih memiliki khas warna keemasan. Dia memilih warna itu karena ingin hidup di zaman keemasan, tidak mau menderita.

Lukisan berjudul Zaman "Puncak Keemasan", misalnya, merupakan doa agar kariernya sebagai pelukis mencapai puncak seutuhnya.

GALERI - Galeri lukisan di Rumah Seni Ropih di Jalan Braga, Selasa (30/6).
GALERI - Galeri lukisan di Rumah Seni Ropih di Jalan Braga, Selasa (30/6). (TRIBUN JABAR/JANUAR PH)

Ropih pun pernah membuat lukisan berjudul "Bunga Harum Mewangi". Lukisan ini merupakan cerminan keinginan dia agar kehidupannya harum mewangi. Minimal, katanya, di lingkungan keluarganya.

"Banyak orang yang hidupnya sangat bermakna. Baunya wangi sampai sekarang, seperti Diponegoro yang namanya harum hingga sekarang," kata pria kelahiran 12 Februari 1959 ini.

Ropih mengaku belajar sejak berusia tujuh tahun. Dia belajar autodidak di bawah bimbingan ayahnya, Mumu Mitra, yang juga pelukis. Dulu, Mumu memiliki Sanggar Jiva Mukti di Babakan Siliwangi.

"Di sana saya belajarnya. Saat itu ayah saya membawa mitra ke sanggar lukisnya. Jadi, lingkungan memengaruhi saya untuk menjadi pelukis," katanya.

Dalam laman lukisanropih.tripod.com disebutkan, Ropih, pada 1995 hingga 1999, pernah bermukim sekaligus menimba ilmu di Bali.

Ropih adalah anak sulung dari 10 bersaudara. Selain dia, lima adiknya menjadi pelukis, yakn Wahyu, Asep Muslim Mulyana, Dede Ginanjar, Neneng Widia, dan Deden Sugih Abdurachman.

"Wahyu sekarang maju. Dia sekarang melukis di Cipedes," kata Ropih.

Anto Suhartono, pelukis di Rumah Seni Ropih.
Anto Suhartono, pelukis di Rumah Seni Ropih. (TRIBUN JABAR/JANUAR PH)

Ropih semula terkenal sebagai pelukis beraliran realis. Namun, kini, dia mengaku menjadi pelukis aliran ekspresionis karena tangan kanannya sudah tidak cekatan lagi untuk melukis.

Sejak mengalami stroke, empat tahun yang lalu, dia melukis menggunakan tangan kiri. Menurutnya, sulit melukis realis dengan menggunakan tangan kiri.

Ropih mengaku dulu dalam sebulan ia bisa menghasilkan empat hingga lima lukisan. Namun, katanya, sekarang hanya satu lukisan. Ropih mengaku karyanya hampir habis.

"Kalau lagi mau, ya, melukis. Melukis itu tergantung mood-nya," ujarnya. "Saya melukis sampai saya tidak mampu. Kalau saya mampu, mah, saya terus."
Pengalaman Unik

Ropi mengisahkan sebuah pengalaman uniknya selama berkarier menjadi pelukis. Dia pernah melukis di jalan, ukurannya kecil dan hanya membutuhkan 15 menit untuk menyelesaikannya, tapi ternyata bisa laku Rp 10 juta.

Saat itu, katanya, ada orang Inggris lewat, yang bilang lukisannya bagus. "Kejadiannya 8 tahun yang lalu. Orang Inggris itu nanya, 'Kalau dibeli berapa.' Saya tawarkan Rp 10 juta langsung dibeli, padahal ukurannya kecil," kata Ropih.

Temanya topeng, kata Ropih, dan melukisnya di Jalan Braga. Waktu itu menurutnya merupakan pengalaman yang indah. "Itulah, ada suatu keindahan, yang tidak bisa dijadikan patokan. Jadi relatif sebenarnya harga lukisan itu," kata Ropih.

Ada juga yang gila lukisan Ropih. Penggemar lukisan Ropih itu membeli 700 lukisan karya Ropih. Dia, kata Ropih, kepala sebuah bank swasta di Bandung. Menurutnya, sampai sekarang, orang itu masih membeli lukisannya.

"Kalau saya melukis, lukisannya kemudian diperlihatkan ke dia, dia pasti membelinya," katanya. (januar ph)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved