Breaking News:

Ketua Umum IKA UPI Sebut Tidak Semua Guru dan Murid Siap Ikuti Terus KBM Secara Online

Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Pendidikan Indonesia (IKA UPI), Enggartiasto Lukita, mengatakan

Tribunjabar/Hilman Kamaludin
Ketua Umum IKA UPI Enggartiasto Lukita 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Syarif Abdussalam

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Pendidikan Indonesia (IKA UPI), Enggartiasto Lukita, mengatakan tidak semua guru dan murid atau pelajar di Jawa Barat dan Indonesia siap melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) secara jarak jauh atau online di masa pandemi Covid-19 ini.

Enggar mengatakan hal ini disebabkan kemampuan para guru dan konektivitas KBM jarak jauh ini tidak semuanya sama di Indonesia, termasuk Jawa Barat. Selain masih banyaknya guru yang tidak siap melakukan pengajaran secara online, juga disebabkan sarana dan prasarana untuk menggelar kelas jarak jauh tersebut yang belum terpenuhi.

Indonesia, kata Enggar, bukan hanya Jakarta, Pulau Jawa, dan bukan hanya kota-kota besar. Persoalan besar di dalam proses belajar secara virtual ini, katanya, dialami daerah-daerah di Indonesia, terutama kawasan pelosok.

"Dari berbagai laporan dan survei yang ada, prosentasinya di bawah 60 persen yang terjangkau, baik ketersediaan wi-fi internet, sampai kepemilikan orang terhadap berbagai peralatan yang dibutuhkan," kata Enggar dalam webinar bertajuk “Guru Digital vs Pandemi: Menyoal Kompetensi Guru Era Digital” yang diselenggarakan Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Pendidikan Indonesia (IKA UPI) Sabtu, (4/7/2020).

Mobil Loncati Trotoar lalu Tabrak Dinding Bangunan di Jalan Diponegoro Kota Bandung

Terlebih, katanya, guru-guru yang ada tidak dipersiapkan untuk itu. Karenanya, kesenjangan kemampuan dan akses teknologi pun jadi sangat jelas terjadi antara kota besar dan pelosok dan ini akan kian memperbesar kesenjangan pendidikan antara kota besar dan daerah.

"Guru tidak bisa disalahkan, ada beberapa guru yang melakukan hal-hal yang tidak tepat, hanya sekedar memberikan tugas dan sebagainya. Tetapi satu hal yang pasti adalah, saya mohon maaf, guidance mengenai penyesuaian kurikulumnya, silabusnya, dalam kondisi ini, belum terpublikasi belum merata di seluruh daerah sehingga tidak ada pilihan bagi guru untuk hanya sekedar memberikan tugas-tugas saja, karema tidak tahu apa yang harus dilakukan," katanya.

Padahal di tengah Revolusi Industri 4.0 ini, katanya, semua sudah mempersiapkan diri dalam berbagai aspek untuk melakukan digitalisasi. Tetapi dengan pandemi ini, terjadi lompatan untuk mengaplikasikan berbagai hal terutama dari segi informasi teknologi.

"Sekarang yang jadi persoalan adalah siapa yang harus bertanggung jawab. Juga tidak bijaksana kalau kita menyatakan bahwa ini tanggung jawab pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Pendidikan. Tetapi tidak bisa dipungkiri Kementerian Pendidikan inilah yang harus memberikan arah kepada semuanya sampai seluruh guru," ujarnya.

Baim Wong Ramai Disebut-sebut Disindir Nikita Mirzani, Postingan Paula Banjir Komentar

Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), katanya, kini seharusnya memiliki peranan melalui penugasan Kementerian Pendidikan, untuk bisa mempersiapkan para guru menghadapi kondisi pandemi ini, dengan satu panduan yang jelas.

Halaman
12
Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved