Coffee Break

Air Mata Puisi

Sekarang penyakit gulanya tambah parah. Sudah beberapa lama ia hanya bisa terbaring. Nahasnya, bukan hanya dia, istri dan anak-anaknya juga sakit.

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Air Mata Puisi
dokumentasi
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun

Oleh Hermawan Aksan

PEKAN lalu salah satu sastrawan-budayawan Sunda, Godi Suwarna, menulis status mengharukan di akun FB-nya. Judulnya "Kumeclak Cimata Sajak", yang saya coba alih bahasakan menjadi lebih kurang "Tetesan Air Mata Puisi".

Berikut ini saya sadur tulisan Kang Godi, yang aslinya ditulis dalam bahasa Sunda.

"Sejak pensiun dari harian Pikiran Rakyat, penyair Soni Farid Maulana sekeluarga tinggal di Ciamis. Sejak menjadi orang Ciamis, mantan redaktur budaya PR dan penyair yang termasyhur di Nusantara, bahkan tembus hingga mancanegara, ini sakit-sakitan karena penyakit gula.

Sekarang penyakit gulanya tambah parah. Sudah beberapa lama ia hanya bisa terbaring. Nahasnya, bukan hanya dia, istri dan anak-anaknya juga sakit. Tambahan pula, ia tidak punya biaya untuk ke dokter karena mata pencahariannya sekarang hanya mengandalkan jualan buku puisi—di zaman yang serbasulit.

Ketika saya kunjungi di rumahnya, kelihatan dia memaksakan diri bangun. Langkahnya tertatih- tatih, kakinya setengah diseret. Rupanya betis dan telapak kakinya bengkak. Ketika ia berjalan, wajahnya tampak menahan sakit. Kukunya kakinya kuning, seakan-akan baru dicelupkan ke cat.

Saya hanya bisa meneteskan air mata. Ingin rasanya membantu dia, tapi apa daya, saya hanya orang yang tunaharta dan tunatakhta. Saya hanya bisa berdoa, semoga dia sekeluarga diberi kesehatan dan kekuatan dalam menghadapi cobaan.

Mudah-mudahan ada orang berada dan dermawan yang ikhlas mengentaskan dia dan keluarganya dari kesulitan hidup. Dengan membeli bukunya, kita bisa membaca puisi-puisinya sekaligus turut membuat dapurnya mengepul.

Teman-teman yang ingin membeli buku karyanya bisa menghubungi Heni Hendrayani, istrinya. Ini nomor WA-nya: 081224143686."

Oh, ya, beberapa hari sebelumnya, penyair Ratna Ayu Budhiarti, melalui status FB-nya, mengabarkan buku terbaru Kang Soni, Memburu Capung, baru saja terbit. Ratna juga menyampaikan daftar buku lain karya Kang Soni. "Yang minat, silakan japri saya ya," tulis Ratna.

Melihat kondisi Kang Soni (meskipun hanya melalui cerita Kang Godi), saya melihat sisi lain kehidupan seniman umumnya—penulis khususnya. Beberapa waktu lalu dikabarkan bahwa beberapa seniman Gedung Kesenian Rumentang Siang membutuhkan bantuan karena tidak punya penghasilan akibat terdampak wabah korona.

Ingatan saya juga melayang ke nama Hamsad Rangkuti. Sastrawan yang sudah mengharumkan nama Indonesia ke mancanegara ini mengalami serangkaian penderitaan sebelum meninggal. Dari sebuah laman berita, saya kutipkan kondisi Hamsad sebelum meninggal. "... Sebelumnya, pria yang pernah menjadi pemimpin redaksi majalah Horison itu keadaannya baik-baik saja. Sampai pada tahun 2009, Pemerintah Kota Depok mengambil tanahnya secara sepihak, membangun tempat pembuangan sampah sementara di lahan berukuran 5x12 meter, tak jauh dari rumahnya.

Hamsad Rangkuti sempat melawan, tapi kalah. Pemkot Depok tetap melakukan pembangunan di atas tanah miliknya. Ironisnya, keluarga Hamsad tidak mendapat uang pengganti.

Sejak saat itu, ia pun sering sakit-sakitan. Rumah yang menjadi sumber inspirasi dan tempat ia menulis tak lagi terasa hangat. Sampah yang menumpuk, belatung, kecoa, tikus, dan bau busuk menerbangkan bau hingga ke rumahnya. Lingkungan yang tidak sehat menyebabkan keluarga tersebut dijangkiti penyakit. Penyakitnya semakin parah. Bermula dari muntah-berak, kondisinya makin menurun. Pada tahun 2012, ia sampai harus melakukan operasi by pass jantung. Tak hanya itu, perutnya sampai-sampai harus dilubangi karena tak bisa lagi buang air kecil...."

Alhamdulillah, beberapa hari kemudian, sejumlah tokoh Forum TBM Jawa Barat bersama pegiat Taman Baca bersilaturahmi ke kediaman Kang Soni.

Namun, satu pertanyaan terus berputar di kepala saya: tidakkah ada upaya pemerintah untuk lebih memperhatikan para seniman yang sudah mengharumkan nama daerah dan bangsa, yang mengalami kesulitan di masa tua? (*)

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved