Breaking News:

PSBB di Tasik Sudah Selesai, Kini Masuki Fase AKB Penuh

Antara lain, warga masih wajib mengenakan masker, physical distancing serta mencuci tangan memakai sabun.

TRIBUN JABAR/FIRMAN SURYAMAN
Padal Regu Satu Terminal Tipe A Indihiang, Iptu Sujarmanto memberikan masker kepada penumpang yang tidak memiliki masker, saat sosialisasi jaga jarak di Terminal Tipe A Indihiang, Kota Tasikmalaya, Minggu (14/6/2020). 

PSBB Tahap IV di Kota Tasikmalaya Selesai, Kini Memasuki Fase AKB Penuh

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Firman Suryaman

TRIBUNJABAR. ID, TASIKMALAYA - Penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tahap IV selesai, Jumat (26/6), Pemkot Tasikmalaya menyiapkan adaptasi kebiasaan baru (AKB) secara penuh.

Sekda Kota Tasikmalaya, Ivan Dicksan, yang juga juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota, mengungkapkan, kebijakan itu sesuai dengan langkah yang diambil Pemprov Jabar.

"Pemprov Jabar mengakhiri masa PSBB hari Jumat kemarin. Nah saat ini, sesuai arahan Gubernur, memasuki fase AKB secara penuh," kata Ivan, Sabtu (27/6).

Memasuki fase AKB ini, lanjut Ivan, yaitu memasuki kehidupan secara normal namun tetap wajib menerapkan protokol kesehatan cegah Covid-19.

"Warga harus paham, AKB bukan berarti mulai hidup normal seperti dulu. Pasalnya Covid-19 masih ada, sehingga melaksanakan secara disiplin protokol kesehatan masih harus dilakukan," ujar Ivan.

Antara lain, warga masih wajib mengenakan masker, physical distancing serta mencuci tangan memakai sabun.

"Mengenakan masker dan jaga jarak di keramaian harus dilakukan jika ingin terhindar dari Covid-19," kata Ivan.

Lebih jauh ia mengungkapkan, memasuki AKB posko-posko di tempat-tempat keramaian yang biasa menegur warga yang tidak menerapkan protokol kesehatan mulai ditarik.

"Patroli dengan kendaraan maupun jalan kaki unsur gabungan Gugus Tugas juga akan dikurangi. Karena warga harus mulai melakukan protokol kesehatan secara mandiri," ujar Ivan.

Sementara pembukaan tempat-tempat hiburan serta obyek wisata masih dalam pembahasan.

Terutama mengatur kebijakan antisipasi Covid-19 jika obyek-obyek itu mulai dibuka.

"Sedangkan masalah pendidikan, hingga saat ini masih mengikuti kebijakan pemerintah pusat. Yaitu belajar di rumah dengan sistem online."

"Kebijakan ini memang harus hati-hati difikirkan matang karena menyangkut keselamatan anak-anak. Jangan sampai sekolah menjadi klaster penyebaran Covid-19," kata Ivan. (firman suryaman)

Penulis: Firman Suryaman
Editor: Ravianto
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved