Breaking News:

Membuat Hiasan Akuarium Berawal Coba-coba, Hendi Pernah Dapat Pesanan dari Jerman

Berawal dari coba-coba membuat Hendi Andriana (35), warga Kampung Lapang Purnawarman RT 42 RW 8, merasa mencintai profesinya saat ini.

Membuat Hiasan Akuarium Berawal Coba-coba, Hendi Pernah Dapat Pesanan dari Jerman - hendi-andriana-warga-kampung-lapang-purnawarman-rt-42-rw-8.jpg
TRIBUN JABAR/M NANDRI PRILATAMA
Hendi Andriana, warga Kampung Lapang Purnawarman RT 42 RW 8, Kelurahan Sindangkasih, Kecamatan/Kabupaten Purwakarta, yang hiasan akuarium dengan cara autodidak.
Membuat Hiasan Akuarium Berawal Coba-coba, Hendi Pernah Dapat Pesanan dari Jerman - akuarium-bikinan-hendi-andriana.jpg
TRIBUN JABAR/M NANDRI PRILATAMA
Akuarium bikinan Hendi Andriana

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama

TRIBUNJABAR.ID, PURWAKARTA - Berawal dari coba-coba membuat Hendi Andriana (35), warga Kampung Lapang Purnawarman RT 42 RW 8, Kelurahan Sindangkasih, Kecamatan/Kabupaten Purwakarta, merasa mencintai profesinya saat ini. Dia menjadi perajin akuarium unik berbentuk pegunungan dan air terjun.

Bermodal semen, pasir, dan styrofoam, dia membentuk hiasan akuarium dan setelahnya memoles dengan cat sebelum dipasang tanaman-tanaman imitasi menggunakan lem tembak.

"Satu hiasan akuarium unik ini minimal lima hari sudah selesai dan bisa dipasang di akuarium," katanya, Sabtu (20/6/2020).

Hendi awalnya memasarkan hasil karyanya ini di forum para perajin hiasan akuarium, selain di media sosial miliknya. Hendi mengaku pesanan pun banyak berdatangan dari luar pulau, seperti Sumatera, Bali, hingga Sulawesi.

"Luar negeri ada, seperti Jerman dan Pakistan. Tapi, saya bingung cara kirimnya bagaimana," katanya.

Untuk harga satu hiasan akuarium unik full set, dia mematok tarif Rp 500 ribu untuk ukuran 40x30x35 sentimeter.

"Paling mahal pernah saya membuat untuk harga Rp 6 juta itu untuk ukuran 1,5 meter," ucapnya.

Awalnya Hendi membuat hiasan akuarium unik ini menggunakan tanaman hidup. Tetapi, lantaran pemesannya sifatnya penikmat, bukan hobi, sehingga mereka enggak akan bisa merawatnya dan tanaman pun menjadi mati, sehingga diputuskan menggunakan tanaman sintetis.

"Saya sudah menggeluti ini empat tahun. Kalau inspirasi awalnya hanya coba-coba bikin. Saya autodidak membuatnya," ujarnya.

Halaman
12
Penulis: Muhamad Nandri Prilatama
Editor: Giri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved