Breaking News:

Kemenkes Segera Bantu Alat-alat Penanganan Covid-19 Hasil Inovasi Jabar untuk Diproduksi Massal

Menteri Kesehatan RI, Terawan Agus Putranto menilai sinergitas antarlembaga di Jawa Barat terbukti membuat

Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam | Editor: Ichsan

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Syarif Abdussalam

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Menteri Kesehatan RI, Terawan Agus Putranto menilai sinergitas antarlembaga di Jawa Barat terbukti membuat penanganan Covid-19 berjalan baik.

Begitu juga dengan kinerja rumah sakit dan para tenaga medis membuat kasus Covid-19 di Jabar kian terkendali.

"Kita melihat effort dari Pemprov Jabar begitu bagus dan hasilnya membuat Provinsi Jabar semakin membaik dalam penanganan Covid-19. Untuk rumah sakit sangat baik di dalam merawat sehingga kita bisa melihat masyarakat yang dirawat sedikit, tidak membuat rumah sakit menjadi penuh sekali untuk Covid-19, sehingga masih banyak relaksasi waktu, betul-betul tim dokter bisa mempunyai konsentrasi untuk menangani pasien yang berat dengan baik," kata Terawan di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, Sabtu (20/6).

Terawan pun berjanji akan membantu melakukan fasilitasi proses pendaftaran sejumlah alat penanganan Covid-19 hasil riset sejumlah instansi di Jabar dan yang diproduksi di Jabar kepada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) agar bisa diproduksi massal.

Mengenal Sosok Junghuhn, Dikenang di Indonesia Diasingkan di Jerman Negaranya Sendiri

Seperti diketahui, Jabar melahirkan sejumlah alat medis untuk penanganan Covid-19. Mulai dari ventilator buatan PT Dirgantara Indonesia, Deteksi CePAD atau Rapid Test 2.0 dan Surface Plasmon Resonance (SPR) karya ITB dan Unpad, serta laboratorium kontainer buatan PT Biofarma.

"Kita daftarkan dan kita fasilitasi untuk nanti, bisa kita lakukan pembelian untuk proses pengadaannya sehingga itu bisa dipakai nantinya di seluruh penjuru tanah air, kita harus bangga dengan produk Indonesia. Saya yakin produk Indonesia sangat kompatibel dipakai di indonesia," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, Muhajir Effendy mengapresiasi kinerja Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam menangani Covid-19.

"Menurut saya Jabar termasuk sangat bagus di dalam penanganan Covid-19 dengan jumlah penduduk terbesar. Sekarang kondisinya baik sebagian masih (zona) oranye, ada kuning tapi sudah mulai menghijau kalau dilihat secara gugus parsial, ini bagus untuk Jabar," tutur Muhajir.

Tahura Ir H Djuanda Kota Bandung Tutup Ikuti PSBB Proporsional hingga 26 Juni 2020

Muhajir mengatakan RSHS Bandung sudah mulai menerapkan pengobatan pasien positif Covid-19 dengan metode convalescent plasma. Hasilnya, dengan metode itu kondisi pasien terus membaik.

"Hasil laporan dari ketua tim juga sudah bagus hasilnya membaik untuk yang diobati. Pak Menkes akan memberikan bantuan peralatan agar bisa lebih memasatikan bahwa penerapan pengobatan menggunakan plasma ini yang direkomendasikan Kemenkes bisa digunakan untuk seluruh indonesia," tuturnya.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menuturkan, kasus Covid-19 di Jawa Barat relatif terkendali dengan rata-rata 30 kasus per hari. Menurut dia, penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dari level provinsi hingga mikro serta pengetesan masif menjadi kunci Jabar dalam menangani Covid-19 selama ini.

"Sudah enam pekan angka reproduksi (Rt) kita di bawah 1 angkanya. Kami di Jabar selalu ilmiah dalam mengambil keputusan, meibatkan epidemologis dari perguruan tinggi, ada ahli ekonomi juga. Yang sembuh sudah mendekati angka kasus aktif. Di rumah sakit juga pasien Covid-19 sudah sedikit. Dari 100 persen kapasitas ruang inap sekarang hanya 29 persen yang dipakai," ucap Kang Emil, sapaan akrabnya.

Rekomendasi Objek Wisata Pekan Ini, Taman Satwa Cikembulan Sudah Bisa Dikunjungi Mulai Besok

Meski demikian, Kang Emil mengaku Jabar punya tantangan besar dalam proses transisi adaptasi kebiasaan baru (AKB). Karena itu, ia pun memerintahkan tim dari gugus tugas provinsi untuk terus melakukan pemeriksaan di pusat keramaian agar masyarakat tak larut dalam euforia.

"Tantangannya, kita ini provinsi paling dekat dengan episentrum. Kami sudah buka kegiatan ekonomi, rumah ibadah dan lain-lain. Kami juga ngetes wisatawan di Puncak karena orang Jakarta sulit ditahan. Makanya kami periksa dipaksa swab, kalau ada anomali kami tutup, kalau enggak kami buka," katanya

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved