5 Solusi dari Dedi Mulyadi agar Target Produksi Beras Nasional Bisa Tercapai

Pemerintah Indonesia menargetkan produksi gabah kering petani pada 2020 sebanyak 59,15 juta ton.

Penulis: Ichsan | Editor: Ichsan
istimewa
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi dan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menaiki traktor di satu sawah di Karawang 

TRIBUNJABAR.ID - Pemerintah Indonesia menargetkan produksi gabah kering petani pada 2020 sebanyak 59,15 juta ton. Target itu rencananya diperoleh dari luas lahan sawah 11,28 juta hektare.

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi menilai, kalau dari sisi target pemerintah selalu optimistis. Namun faktanya, berdasarkan pengalaman tahun lalu, target optimistis itu tak pernah tercapai. Problemnya adalah masalah ketersediaan air, pupuk dan stimulus modal.

Oleh karena itu, Dedi mengingatkan pemerintah untuk melakukan beberapa tindakan antisipatif yang bersifat stimulus jangka pendek.

Tindakan dimaksud adalah, pertama seluruh jaringan distribusi irigasi tersier harus segera digerakkan dalam bentuk kegiatan padat karya, sehingga distribusi air terpenuhi.

Dua Tahun Buron, Kejari Bandung Eksekusi Oey Han Bing Terpidana Kasus Keterangan Palsu

"Karena problem hari ini adalah air. Hujan sudah mulai tidak ada, kemudian stok air irigasi habis di jalan karena keruskaan irigasi dan sejenisnya," kata Dedi Mulyadi melalui ponselnya, Selasa (16/6/2020).

Dedi Mulyadi
Dedi Mulyadi (istimewa)

Antisipasi kedua adalah petani harus diberi stimulus modal untuk terus bekerja. Caranya dengan pola padat karya.

Misalnya memperbaiki saluran irigasi dan sejenisnya, sehingga petani bisa memperoleh pendapatan untuk modal bertani.

Upaya ketiga adalah mendorong ketersediaan pupuk yang memadai. Menurutnya, pupuk merupakan bagian penting dari produksi pertanian.

Tak Alami Gejala Klinis, Bayi Positif Covid-19 di Kabupaten Cirebon Tinggal Menunggu Hasil Swab Test

Upaya keempat adalah penyerapan hasil produksi panen. Sebab, kata Dedi, pada April kemarin sampai hari ini, harga gabah hasil panen belum sesuai dengan harapan petani.

"Masih banyak petani yang juga tak melepas (menjual) hasil panennya. Dampaknya kecukupan modal menurun. Jadi penyerapan itu penting meski ada KUR," ujar mantan Bupati Purwakarta itu.

Selanjutnya atau kelima adalah memperbanyak pembelian mesin pompa air. Meski di daerah irigasi, air kadang tak sampai. Biasanya, petani menggunakan pompa untuk menyedot air dari sumur buatan atau sungai. "Itu hal sederhana tapi efektif," ujarnya.

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved