Prabowo Subianto Calon Kuat Capres 2024, Tapi PA 212 Sebut Tak Etis Jika Maju, Ingin Sosok Lain

Ketua Umum Partai Gerindra yang juga menteri Jokowi, Prabowo Subianto berpeluang diusung partainya kembali menjadi calon presiden di Pilpres 2024.

Editor: Kisdiantoro
humas pemprov jabar
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil saat menjadi saksi nikah bersama Menteri Pertahanan Prabowo Subianto di pernikahan putri Ketua DPRD Jabar Taufik Hidayat di Bandung, Sabtu (8/2/2020) 

TRIBUNJABAR.ID  -  Ketua Umum Partai Gerindra yang juga menteri Jokowi, Prabowo Subianto berpeluang diusung partainya kembali menjadi calon presiden di Pilpres 2024.

Apalagi para petinggi Partai Gerindra banyak yang sepakat kembali memperjuangkan Prabowo Subianto menjadi presdien di Pilpres 2024.

Namun PA 212 yang kemarin banyak mendukung Prabwo Subianto saat bertarung melawan Jokowi, kini lebih menginginkan sosok lain dari Prabowo Subianto maju di Pilpres 2024.

PA 212 dan PKS Kompak Menolak Prabowo Maju Lagi di Pilpres 2024

//

Survei Indo Barometer menunjukkan tingkat elektabilitas Menteri Pertahanan Prabowo Subianto berada di posisi puncak.

Hal itu menjadikan peluang Prabowo untuk kembali maju sebagai calon Presiden di Pemilu 2024 semakin besar.

Namun nampaknya pendukung Ketua Umum Partai Gerindra tersebut mulai berkurang.

Haikal Hassan mengatakan ia tak mau ambil pusing.

Haikal Hassan justru menyebut kurang etis jika Prabowo kembali mencalonkan diri di Pilpres setelah tiga kali.

Hal tersebut disampaikan Haikal Hassan melalui kanal YouTube Kompas TV, Jumat (12/6/2020).

Haikal menyebut, sebelum membicarakan soal Pilpres 2024, seharusnya pemerintah memperbaiki sistem Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Tak hanya itu, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) disebutnya juga memerlukan perbaikan.

"Saran saya, saran kami, sebelum menetapkan siapa yang akan diusung kembali, perbaiki dulu sistem KPU dan Bawaslu," ucap Haikal.

"Agar Pilpres nanti berjalan dengan baik."

Sebelumnya, PA 212 menjadi pendukung Prabowo dalam Pilpres 2019.

Namun setelah Prabowo jadi menteri, Haikal justru menilai tak etis jika Ketua Umum Partai Gerindra itu kembali maju di Pilpres.

"Yang kedua, pencalonan ini dari sisi etika politik kurang etis," kata Haikal.

"Beliau itu sudah menjadi menteri pertahanan dan kami dari 212 tidak ambil pusing dengan posisi itu."

Ketua II Persaudaraan Alumni (PA) 212, Haikal Hassan
Ketua II Persaudaraan Alumni (PA) 212, Haikal Hassan (capture youtube ILC TVONE)

Meskipun begitu, Haikal mengaku tak keberatan jika Prabowo kembali mencalonkan diri di Pilpres 2024.

"Silakan saja, bahkan kami berpikir memang selain Pak Prabowo siapa yang pantas untuk menduduki itu."

"Mungkin tidak ada jawaban, yang paling pantas memang Pak Prabowo," sambungnya.

Haikal justru mempertanyakan soal sosok lain yang pantas jadi presiden berikutnya.

Ia juga mempertanyakan kemampuan Prabowo mengembalikan kepercayaan masyarakat.

"Namun untuk ke depan apabila Pak Prabowo kembali maka kita itu mulai berpikir apakah regenerasi berjalan," kata Haikal.

"Apakah tidak ada calon yang lain? Apakah penuh keyakinan kembali bisa seperti itu?"

"Apa dia mampu kembali mengembalikan kepercayaan masyarakat," sambungnya.

Meskipun tak lagi menyampaikan dukungannya seperti 2019 lalu, Haikal mengaku tak sakit hati Prabowo masuk di pemerintahan.

"Enggak ada yang sakit hati, kita bantu, bukan sakit hati pada Pak Prabowo tentunya," tukasnya.

Elektabilitas Ridwan Kamil Meroket

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Syarif Abdussalam

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengapresiasi hasil survei yang menyatakan elektabilitas dirinya naik di tengah pandemi Covid-19.

Namun demikian, gubernur yang akrab disapa Emil ini menekankan jika hasil tersebut dipicu penanganan Covid-19 di Jawa Barat yang dianggap baik, keberhasilan ini adalah kerja keras Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Jabar dan masyarakat.

"Bekerja itu jangan cari pujian. Niatnya bekerja itu jangan berharap ada ada apresiasi, yang penting kita ini bekerja karena kebutuhan.

Itulah Gugus Tugas Jawa Barat selalu pakai ilmu selalu nanya dulu ke ilmuwan, ahli ekonomi, ilmuwan kesehatan, dalam ngitung zona kuning ke zona biru," kata gubernur yang akrab disapa Emil ini di Gedung Sate, Senin (8/6).

Mengedepankan profesionalitas dan keilmiahan saat penanganan pandemi Covid-19 Jawa Barat, katanya, sampai menggunakan sembilan indikator untuk menentukan zona penyebaran Covid-19, adalah kuncinya.

"Kalau hasilnya menggembirakan, ya berarti hasil tidak membohongi proses. Kalau ada apresiasi dihubungkan ke politik tentang elektabilitas, saya juga tidak bisa menghindarinya. Kecuali mungkin mudah-mudahan itu adalah sebuah hal yang faktual," kata Ridwan Kamil.

Baginya, elektabilitas adalah sebuah hal yang bersifat naik-turun, dan bukanlah sebuah tujuan karena pihaknya kini hanya konsentrasi menyelamatkan 50 juta warga Jawa Barat dari wabah ini. 

 Hasil Survei Elektabilitas Pilpres 2024, Prabowo Turun Drastis, Ridwan Kamil dan Ganjar Meroket

Sebelumnya diberitakan, pandemi Covid-19 ternyata tidak hanya mempengaruhi kehidupan masyarakat secara langsung, baik di bidang kesehatan maupun ekonomi.

Ternyata, wabah ini pun mengubah pandangan masyarakat di bidang politik.

Hal tersebut terbukti dalam survei nasional yang dilakukan Indikator Politik Indonesia untuk mendata perubahan pandangan politik masyarakat Indonesia, sebelum dan saat pandemi Covid-19 terjadi.

Hasilnya, elektabilitas Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo naik dari yang awalnya 9,1 persen pada Februari 2020 menjadi 11,8 pada Mei 2020. Pada rentang periode yang sama, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil pun mengalami peningkatan elektabilitas yang pesat dari awalnya 3,8 persen menjadi 7,7 persen.

 Pengunjung Pusat Perbelanjaan di Kota Cimahi Ikuti Rapid Test, Ridwan Kamil: Ada 3 Rumus Cegah Covid

Lain halnya dengan Prabowo Subianto yang mengalami penurunan dari 22,2 persen pada Februari 2020 menjadi 14,1 persen pada Mei 2020. Hal serupa dialami Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang turun dari 12,1 persen menjadi 10,4 persen, dan Sandiaga Uno yang turun dari 9,5 persen menjadi 6,0 persen. 

Agus Harimurti Yudhoyono pun turun elektabilitasnya dari 6,5 persen menjadi 4,8 persen. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa pun turun elektabilitasnya dari 5,7 persen menjadi 4,3 persen. Nama-nama tersebut ditanyakan kepada 1.200 responden dari seluruh Indonesia mengenai siapakah yang akan dipilih menjadi presiden jika pemilihannya dilakukan saat survei tersebut.

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, mengatakan elektabilitas Prabowo Subianto, Anies Baswedan, dan Sandiaga Uno, mengalami penurunan dibanding survei Februari 2020. 

"Sebaliknya, elektabilitas Ridwan Kamil naik tajam. Demikian pula dengan elektabilitas Ganjar Pranowo. Hasil survei calon presiden bulan Mei 2020 menunjukkan dinamika yang menarik," katanya dalam data yang diterima, Senin (8/6) tersebut.

Dinamika politik di tengah pandemi ini diduga akibat pandangan masyarakat terhadap langkah pemerintah pusat atau provinsi dan sejumlah tokoh lainnya dalam menangani wabah Covid-19.

 Bijaknya Nur Asia Istri Sandiaga Uno Jawab Pertanyaan Ustadz Abdul Somad, Rahasia Awet Rumah Tangga

Penanganan Covif-19 ini, katanya, juga memiliki implikasi politik. Oleh karena itu, informasi tentang implikasi politik ini penting untuk diketahui khususnya kepuasan warga kepada pemerintah, serta kepuasan terhadap demokrasi secara umum.

Karenanya untuk menjawab kebutuhan untuk mengetahui pendapat warga terkait penanggulangan Covid-19 dan implikasi politiknya, maka Indikator Politik Indonesia mengadakan survei opini publik pada 16-18 Mei 2020.

Hasil survei ini penting untuk memetakan dukungan maupun penolakan warga atas berbagai program pemerintah serta efeknya terhadap dukungan pada pemerintah demokrasi.  (Tribunnews.com/Tribunjabar.id)

Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved