100 Warga Nikah Massal, Dandim Prihatin Warga Prasejahtera Tak Bisa Urus Administrasi Kependudukan

Ratusan pasangan ini diisbatkan secara hukum di tiga tempat berbeda yakni di Kecamatan Ciranjang, Kecamatan Warungkondang, dan Kecamatan Cipanas.

Tribun Jabar/ Ferri Amiril Mukminin
Dandim 0608 Cianjur Letkol Inf Rendra Dwi Ardhani memberikan secara simbolis buku nikah kepada warga yang baru saja mengikuti Isbat nikah masal di GOR Desa Nanggala, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jumat (12/6/2020) 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Feri Amiril Mukminin

TRIBUNJABAR.ID, CIANJUR - Sebanyak 100 orang pasangan yang belum memiliki surat nikah alias belum sah secara hukum diisbatkan oleh Kodim 0608 Cianjur dan Pengadilan Negeri Agama Cianjur, Jumat (12/6/2020).

Ratusan pasangan ini diisbatkan secara hukum di tiga tempat berbeda yakni di Kecamatan Ciranjang, Kecamatan Warungkondang, dan Kecamatan Cipanas.

Kepala Pengadilan Negeri Agama Cianjur Dr H Ajib Izudin SH MH, mengatakan Isbat nikah massal berbeda dengan acars nikah massal, kalau isbat nikah mengesahkan pernikahan yang telah dilakukan pada masa lalu tanpa ada bukti hukum atau nikah di bawah tangan.

Didi Sekeluarga Selamat dari Timbunan Longsor, Bukit di Sumedang Ambrol Timbun Rumah

"Isbat nikah berkaitan dengan hukum pernikahan dan menghasilkan buku nikah resmi, sedangkan nikah siri meski syarat dan rukunnya dilakukan tapi tak mempunyai kekuatan hukum," katanya.

Ajib mengatakan, Isbat nikah bisa membantu warga untuk mengurus administrasi kependudukan.

Dandim 0608 Cianjur Letkol Inf Rendra Dwi Ardhani mengatakan, inisiatif adanya isbat nikah karena melihat masih banyak warga Cianjur yang menikah belum secara hukum nasional.

"Maka bantuan berupa bansos dan lainnya sulit karena tak punya surat nikah, kartu keluarga, dari 371 ribu KK warga miskin di Cianjur ada sekitar 21 ribu yang tak memiliki data kependudukan," kata Dandim.

"Meski setelah Isbat nikah tak langsung mendapat bantuan sosial dan sejenisnya, tapi setelah ini warga bisa mengurus administrasi kependudukan," kata Rendra.

Rendra mengatakan, tujuan digelarnya Isbat nikah ini juga untuk membantu warga prasejahtera sehingga bisa mengurus administrasi kependudukan.

Setelah Sekian Lama, Masjid Raya Bandung Kembali Gelar Salat Jumat

"Ada 100 pasangan yang diisbatkan hari ini, paling tua umurnya 69 tahun paling muda 20 tahun," kata Rendra.

Seorang peserta Isbat nikah, Abdurohman (52) mengatakan, ia sudah 21 tahun menikah dan mempunyai seorang anak. Namun selama ini ia belum sempat mengurus surat nikahnya.

"Sekarang kami bersyukur bisa mengurus surat surat," kata Abdurahman.

Menurutnya, saat menikah dulu ia terkendala ekonomi untuk menghadirkan penghulu di pernikahannya.

Senada dengan Abdurohman, seorang warga lainnya, Atep Rahmat (39), juga terkendala ekonomi untuk menghadirkan penghulu saat menikahi istrinya.

Setelah Sekian Lama, Masjid Raya Bandung Kembali Gelar Salat Jumat

"Di kampung yang penting selamat dulu, hanya perwakilan keluarga dan beberapa tokoh yang hadir, kami belum mampu menghadirkan penghulu saat itu, saya berterima kasih kepada Dandim karena sudah menggelar acara ini," kata Atep

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved