Breaking News:

Kawasan Wisata Era New Normal

Taman Hutan Raya Juanda Segera Dibuka, Harus Daftar via Online dan Pengunjung Dibatasi

Kepala Tahura Ir H Djuanda, Lianda Lubis, mengatakan,pengunjung harus bawa peralatan minum dan makan sendiri. Tak ada gathering, pertemuan besar,

tribunjabar/ery chandra
Pintu masuk Tahura Ir H Djuanda Bandung 

Laporan wartawan Tribun Jabar, Ery Chandra

TRIBUNJABAR.ID -BANDUNG - Taman Hutan Raya (Tahura) Ir H Djuanda, Bandung, berencana membuka kembali aktivitas wisata, namun dengan syarat protokol kesehatan yang ketat. Kebijakan itu diambil bertujuan untuk merangsang ekonomi masyarakat yang sempat lesu selama pandemi virus korona baru.

Kepala Tahura Ir H Djuanda, Lianda Lubis, mengatakan, keputusan membuka kembali wisata adalah pilihan berat, sebab pandemi virus korona baru yang menyebabkan Covid-19 belum selesai. Akan tetapi dengan menerapkan aturan ketat, potensi penyebaran korona baru di lokasi wisata alam itu bisa dihindari.

“Mau tidak mau kawasan wisata alam ini harus bertransformasi menjadi wisata terbatas jumlah orang dan aktivitasnya,” ujar Lianda saat dikonfirmasi Tribun, melalui ponselnya, Minggu (7/6).

Menurutnya, pembukaan yang bakal dilaksakan pada Jumat (12/6) itu dengan mempertimbangkan sejumlah aspek termasuk hukum. Antara lain mesti menjalankan standar protokol kesehatan. Jika memungkinkan pengunjung bisa menunjukkan catatan perjalanan terakhir saat datang.

“Edukasi kesehatan nanti ditonjolkan. Harus mendaftar dulu lewat online agar tak terjadi interaksi antarmanusia. Jumlah kelompok kami kurangi, paling tidak 10 orang," katanya.

Ia mengatakan, ketika berwisata secara individu atau berkelompok tak diperkenankan interaksi. Nantinya didampingi satu orang pemandu pasif. Artinya, sesuai kebutuhan informasi. Selebihnya, hanya melihat, menjaga, mengamati, dan mengawasi perilaku para pengunjung.

“Harus bawa peralatan minum dan makan sendiri. Tak ada gathering, pertemuan besar, dancing, pertunjukkan, pengeras suara, dan macam-macam lainnya,” ucap Lianda.

Selain itu, beberapa area tak dibuka. Semisal, flora dan fauna tertentu. Hingga bagian goa Belanda juga serupa karena dinilai sukar untuk menjaga jarak. Pengelola hanya menerima kunjungan maksimal 250 orang per hari. “Hanya tiga pintu yang kami buka, yakni Maribaya, Tebing Keraton, dan gerbang utama Masudi,” katanya.

Dari area terbuka setidaknya 70 persen atau 12 hektare dari semua kawasan, bisa dikatakan aman untuk leluasa bergerak. Selebihnya berbentuk terjal, tebing, dan lainnya. Sejak tiga bulan terakhir, dia menyampaikan kehilangan pendapatan asli daerah setidaknya Rp 1 miliar atau setara satu ribu orang pengunjung.

“Bahkan kalau ditotal dengan PAD, potensi loss itu tiga miliar rupiah. Karena Tahura bukan cari untung bukan pertimbangan utama. Tapi, efek ekonomi pandemi berdampak cukup besar buat masyarakat di sini,” ujar Lianda. (*)

Penulis: Ery Chandra
Editor: Darajat Arianto
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved