Kamis, 7 Mei 2026

Bung Karno Akrab Disapa Paduka, Pesantren di Cianjur Ini Turut Merancang Sang Saka Merah Putih

Kiai Rahmat Kadar pimpinan pondok pesantren Al Basyariyah Kabupaten Cianjur mengatakan, sebutan paduka

Tayang:
Penulis: Ferri Amiril Mukminin | Editor: Ichsan
tribunjabar/ferri amiril mukminin
Sang saka merah putih berukuran sekitar 5x3 meter masih tersimpan baik di pesantren Cikiruh 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ferri Amiril Mukminin

TRIBUNJABAR.ID, CIANJUR - Kiai Rahmat Kadar pimpinan pondok pesantren Al Basyariyah Kabupaten Cianjur mengatakan, sebutan paduka yang ia sematkan untuk Bung Karno karena sering berkunjung ke pesantren yang terletak di Desa Sukanagara, Kecamatan Sukanagara, Kabupaten Cianjur sejak tahun 1930-1939.

"Ada cerita dimana bendera merah putih dibuat di Pekalongan lalu dijahit digabungkan di sini," ujar Rahmat yang merupakan generasi ketiga dari pimpinan Ponpes Al Basyariah.

Rahmat mengatakan, Kiai Basyari pendiri pondok pesantren ini datang dari Jombang pada tahun 1911 dengan berjalan kaki, lalu sempat mendirikan pesantren di beberapa tempat di antaranya di Garut, dan Cianjur.

"Lalu membuka tempat ini mencari tempat Cikiruh yang diartikan sebagai cipratan kiai dan ruh," katanya.

Putra Sulungnya Lebih Dulu Hilang di Laut, Nelayan yang Ditelan Gelombang Tinggi Belum Juga Ketemu

Selama mendirikan pesantren, para kiai selalu membuat bubur merah dan bubur putih.

"Lalu pada tahun 1939 membuat bendera merah putih di Pekalongan dan diperlihatkan ke paduka, Bung Karno," katanya.

Rahmat mengatakan pada tahun 1942 bendera merah putih sempat dikibarkan di pesantren dengan lagu berbahasa Arab, lalu setelah itu dibawa ke istana.

Menurut Rahmat, hingga saat ini para peneliti dari ITB dan UPI sering datang dan berkunjung meneliti bendera raksasa berukuran sekitar 5x3 meter ini.

"Dari ITB dan UPI banyak yang datang mau melihat dari dekat," katanya.

Ratusan Warga Bersenjata Tajam Sambangi Rumah Sakit, Ambil Paksa Jenazah PDP Corona

Rahmat mengatakan, alangkah lebih baiknya jika yang ingin Napak tilas Bung Karno, maka pengunjung harus berjalan kaki dari pertigaan dekat alun-alun Sukanagara.

"Dulu ajudan Bung Karno sering disuruh tinggal. Awalnya kawasan ini bernama Pusakanagara karena terdapat bendera merah putih," katanya.

Rahmat mengatakan kini kondisi pesantren tak seramai dulu jika ada perayaan hari besar keagamaan, pihaknya ingin ada yang membantu meneruskan tradisi jangan sampai sepi.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved