Wabah Virus Corona

Pakar Psikologi Jelaskan Mengapa Warga Nekat Penuhi Pusat Perbelanjaan di Tengah Ancaman Corona

Adanya kerumunan warga membuat protokol Covid-19 yang harusnya diterapkan jadi terabaikan.

tribunjabar/m rizal jalaludin
Pandemi Covid-19, Warga Berjubel Kunjungi Pasar Palabuhanratu, Pedagang Sebut Omzet Turun 50 % 

Sebagian besar masyarakat masih menganggap penyakit ini masih jauh, tidak perlu ditakutkan.

Mereka juga berpikir bahwa ini semua akan berlalu meski belum tahu kapan, memiliki Tuhan yang pasti senantiasa akan melindungi sehingga tidak akan terkena penyakit tersebut.

Kalaupun akhirnya kena, karena itu sudah kehendak Tuhan.

Dalam Psikologi Kesehatan dikenal istilah Health Belief Model (HBM), pendekatan yang dapat memberikan gambaran mengapa seseorang mau atau enggan pergi menemui tenaga kesehatan.

Kondisi yang dapat membuat mau mencari atau tidak mencari adalah "persepsi".

Dalam kondisi penyebaran Covid-19 ini, pada awalnya masyarakat masih banyak yang merasa bahwa penyakit ini masih jauh dan tidak dekat dengan tempat tinggalnya.

Ini disebut dengan perceive susceptibility atau kerentanan apa yang dirasakan/diketahui.

Kemudian ada perceive severity, yakni bahaya atau keparahan penyakit yang dialami.

Masyarakat juga memiliki pemikiran bahwa ini adalah penyakit seperti influenza atau yang dikenal dengan sakit pilek, yang umumnya terjadi di Indonesia.

Selain itu, ada perceive benefit of action, apa manfaat yang akan didapatkan dari tindakan yang dilakukan.

Halaman
1234
Editor: Ravianto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved