Gaungkan Semangat Reformasi, PKB Minta Kuatkan Gerakan Sosial Ekonomi Rakyat

Perjalanan 22 tahun Reformasi Indonesia dinilai belum memberikan kontribusi maksimal bagi perubahan nasib rakyat

istimewa
Gaungkan Semangat Reformasi, PKB Minta Kuatkan Gerakkan Sosial Ekonomi Rakyat 

TRIBUNJABAR.ID – Perjalanan 22 tahun Reformasi Indonesia dinilai belum memberikan kontribusi maksimal bagi perubahan nasib rakyat Indonesia.

Gerakan Reformasi relatif hanya terasa di bidang politik di mana kesempatan semua elemen masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengambilan kebijakan publik lebih terbuka.

“Reformasi Indonesia yang telah berjalan 22 tahun belum mampu mengoptimalkan semua potensi yang dimiliki oleh masyarakat baik di bidang agrikultur, agroindustri, religi, hingga sosial-ekonomi,” ujar Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar dalam webminar bertajuk 22 Tahun Reformasi : Penguatan Gerakan Sosial-Ekonomi Rakyat, Kamis (21/5/2020) malam.

Webminar ini diikuti sejumlah eksponen 1998 dan sejumlah akademisi. Di antaranya Prof Muradi dari Universitas Padjadjaran, Prof Dr Karim Suryadi dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Agustiana (Pejuang Reformasi), Abah Suhendy (Eksponen 1998), dan Syaiful Huda (Eksponen 98) selaku tuan rumah. Narasumber hadir secara langsung di Kantor DPW PKB Jawa Barat.

Gus Ami-sapaan akrab Muhaimin Iskandar- menjelaskan dari sisi keterbukaan politik Indonesia telah mengalami banyak perubahan dibandingkan di saat Orde Baru.

Khutbah Idul Fitri 1441 H, Shalat Id di Rumah, Ustadz Indra: Menjaga Ketakwaan dengan Lima Perkara

Saat ini hampir semua masyarakat bisa menyuarakan aspirasi dan sikap politik mereka secara lebih bebas. Kendati demikian Gerakan Reformasi belum mampu memberikan perubahan signifikan terhadap perbaikan taraf hidup masyarakat.

“Belum adanya perubahan mendasar di bidang sosial-ekonomi selama 22 tahun perjalanan reformasi karena ketidakmampuan kita dalam menghadapi dominasi pasar di mana kita sejauh ini masih sebatas konsumen atas berbagai produk negara lain,” ujarnya.

Dia menilai ketidakmampuan Indonesia dalam menghadapi dominasi pasar ini bisa dilihat dari ketidakmampuan bangsa ini dalam memenuhi kebutuhan dasarnya.

Hampir semua produk strategis mulai dari beras, minyak, garam, hingga bawang masih impor. Kondisi ini terjadi karena belum munculnya kebijakan mendasar yang benar-benar berpihak kepada rakyat.

Wakil Ketua DPR RI ini berharap ke depan ada perubahan paradigma pembangunan di Indonesia. Apalagi penyebaran wabah corona (Covid-19) selama hampir tiga bulan terakhir menyadarkan jika Indonesia memiliki banyak sekali kekurangan seperti lemahnya sistem kesehatan, keterbatasan anggaran, keterbatasan tenaga medis, rendahnya disiplin warga, hingga ancaman kerawanan pangan.

Bertahan di Tengah Badai Covid-19, Dapur Keluarga Tukang Cukur di Tasikmalaya Ini Tetap Mengepul

Halaman
12
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved