UMKM Terimbas Corona

Balada Bisnis Daring di Tengah Pandemi Covid-19, Seminggu Cuma Satu Pesanan

Pelaku usaha dipaksa mengubah cara berbisnis, dari konvensional beralih ke daring. Namun tak serta merta perubahan ini mendongktak omzet...

ILUSTRASI:TRIBUN JABAR/ARI RUHIYAT
UMKM Terimbas Corona 

Laporan Wartawan Tribun Cipta Permana dan Putri Puspita 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pandemi Covid-19 berimbas pada semua sektor, tak terkecuali sektor ekonomi. Namun, berbeda dengan krisis ekonomi 1998 yang hanya memukul korporasi besar dan sektor keuangan, pandemi Covid-19 turut meluluhlantakkan semua sektor ekonomi dan pelaku bisnis, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan bisnis kreatif.

Pelaku usaha dipaksa mengubah cara berbisnis, dari berjualan secara konvensional beralih menjual produknya secara daring. Namun tak serta merta perubahan ini mendongkrak omzet penjualan mereka.

Turunnya daya beli masyarakat jadi penyebab utama. Berdasarkan hasil Survei Konsumen Bank Indonesia (BI), penurunan optimisme konsumen (daya beli) terus melemah dalam semester pertama ini. Hal ini terlihat dari indeks keyakinan konsumen (IKK) pada bulan Januari 2020 yang terus menurun hingga bulan April 2020 akibat dampak yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19 ini.

Survei BI pada April 2020 mengindikasikan optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi, melemah cukup dalam dari bulan sebelumnya. Hal itu tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada April 2020 sebesar 84,8, turun dibandingkan dengan Maret 2020 yang berada di angka 113,8. Begitu juga di bulan Februari 2020 berada di angka 117,7 dan Januari di angka 121,7.
Daya beli warga yang melemah ini sangat dirasakan oleh pebisnis kalangan menengah ke bawah di Bandung. Pandemi Covid-19 dan penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) full selama satu bulan seakan mencekik penghasilan pengusaha lokal.

"Setelah muncul pandemik corona ini orang-orang lebih milih mempersiapkan diri untuk bertahan hidup dibandingkan belanja kebutuhan sandang,” ujar owner Second Enaks, Fitry Afriliyan.

Pengusaha lokal yang menjual sepatu impor branded bekas ini mengaku, akibat pandemi, usahanya terjun bebas. “Waktu itu awal Januari di Thailand sudah mulai ramai ada virus korona. Kami masih bisa ambil barang (dari sana) walaupun di sana sudah ramai social distancing. Kami nyicil (impor) barang (dari Thailand),” ujarnya.

Saat itu, ia dan suami tak menduga bahwa dampak pandemi Covid-19 akan sefatal ini. "Mamun, memasuki bulan Maret, pembeli seakan menghilang," ujarnya.

Dalam seminggu, Fitry menyebut rata-rata hanya mendapat order pembelian satu barang dari konsumen. Padahal, sebelum muncul korona, dalam sebulan ia bisa menjual 100 pasang sepatu atau rata-rata 25 pasang sepatu terjual setiap minggu.

"Bulan ini ada yang beli sepatu vintage yang harganya satu juta lebih, pembelinya datang dari kalangan menengah ke atas. Kalau pembeli normal yang biasanya anak sekolah, sudah enggak ada yang beli," ujarnya.

Agar bisa bertahan, Fitry dan suaminya pun mencoba menjual produk lain yang lebih mudah laku seperti makanan dan kaus. "Sisa modal yang ada aku putar. Untuk memenuhi kebutuhan Rp 5 juta sebulan saja enggak ketutupin. Aku sampai ikut bikin pengajuan laporan ke RT untuk bantuan, tapi enggak ada respons," ucapnya.

Owner Sentra Pempek di kawasan Kiaracondong, Adriansyah (42), mengaku omzet penghasilannya menurun hingga 30-40 persen selama pemberlakuan PSBB. Meski sudah berjualan melalui aplikasi layanan pesan-antar sejak akhir Maret lalu, tetap tak mampu mendongkrak penghasilan.

"Kalau ditanya dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, tentu sekarang kerasa ya Kang. Biasanya pembeli yang makan di tempat atau dibawa pulang rata-rata bisa 50-70 porsi per hari, kalau sekarang untuk 30 porsi aja susah.(*)

* Selengkapnya bisa dibaca di Harian Tribun Jabar, Jumat 22 Mei 2020

Penulis: Cipta Permana
Editor: Arief Permadi
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved