Virus Corona di Jabar

'Desa Merah' di Kuningan Tak Boleh Gelar Shalat Idul Fitri Berjamaah

Kemudian dalam keterangannya pun menyebutkan bahwa barang haram bisa jadi halal ketika dalam keadaan darurat.

(ilustrasi) Ratusan warga binaan Lapas Sukamiskin, tumpah ruah di Lapangan Tenis Lapas Sukamiskin untuk mengikuti Shalat Idul Fitri, Jumat (17/7/2015). 

Laporan Kontributor Kuningan, Ahmad Ripai

TRIBUNJABAR.ID, KUNINGAN – Sejumlah ‘desa merah’ di Kuningan tidak boleh melaksanakan salat Idul Fitri 1441 Hijriyah.

“Suratnya pun sudah dikeluarkan oeleh pemerintah daerah,” kata Ketua MUI (Majlis Ulama Indonesia) Kuningan KH Dodo Syarif Hidayatullah saat ditemui di kediamannya, Blok Pasapen Lingkungan Lamepayung Kuningan, Rabu (20/5/2020).

Pernyataan itu, kata dia, usai melaksanakan pertemuan dengan Bupati Kuningan dan unsur pimpinan daerah di kantor Bupati setempat.

“Kita tadi rapat dengan bupati, ketua IDI (Ikatan dokter Indonesia, red) Kapolres dan Dandim serta pejabat lainnya,” kata Dodo.

Latar belakang larangan melaksanakan solat idul fitri di ‘desa merah’ terutama karena Kuningan ini masuk zona kuningan.

“Wilayah Kuningan ini memang bagus tidak, buruk pun tidak,” katanya.

Jadi, masih kata Dodo, sejumlah desa di Kuningan bisa melaksanakan solat idul fitri dengan beragam ketentuan dalam pencegahan penyebaran virus corona.

“MUI menetapkan pelaksanaan solat idul fitri itu boleh dan dilakukan tidak hanya satu titik seperti pada tahun sebelumnya,” katanya.

Misal, kata dia, pelaksanaan solat idul fitri bisa dikerjakan secara berjamaah di lahan luas berada di lingungan masyarakat.

Halaman
1234
Editor: Ravianto
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved