Resepsi Pernikahan Dilarang, Pengelola Wedding Organizer Pun Banting Setir Jualan Baju Online

Setelah diterapkan aturan ketat untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona dengan mengatur

istimewa
ilustrasi resepsi pernikahan 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Andri M Dani

TRIBUNJABAR.ID, CIAMIS – Setelah diterapkan aturan ketat untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona dengan mengatur jarak dan menghindari kerumunan, sejak bulan April nyaris tidak ada lagi resepsi pernikahan. Dan para pengelola wedding organizer (WO) pun kehilangan job (pekerjaan).

Untuk penghasilan sehari-hari sejumlah pekerja WO terpaksa banting setir mencari usaha lain seperti berjualan pakaian (fashion), makanan dan minuman secara online. Atau meneruskan pekerjaan utamanya sebagai guru honorer.

“Bulan April lalu sebenarnya kami sudah ada 10 order yang deal. Tapi semuanya gagal. Tujuh resmi dibatalkan sementara tiga lainnya diresceduling. Tapi dijadwal ulangnya sampai waktu yang tidak  jelas,” ujar Jang Agus (29) pengelola Rangers WO asal Desa  Kiarapayung, Rancah kepada Tribun, Minggu (10/5/2020).

Sepuluh pasangan pengantin yang semula sudah komunikasi dengan Rangers WO pada bulan April tersebut kata Agus akhirnya memilih aturan pemerintah yakni hanya melaksanakan akad nikah saja di KUA sesuai ketentuan social distancing.

Galian Tambang di Cipatat KBB Longsor, 3 Kendaraan Rusak Berat

“Jadi April kemarin kami nol job alias nihil. Padahal semula sudah direncanakan job bulan April untuk bekal puasa dan lebaran. Tetapi semuanya terimbas corona,” katanya.

Agus bersama  25 orang rekannya (delapan orang perempuan) sesame aktivis kegiatan pramuka, membentuk  Rangers WO sekitar sepuluh tahun lalu. Dari 25 orang tersebut  lima orang diantaranya berprofesi sebagai guru honorer. “Sejak  April tidak ada order, tidak ada job. Tapi tugas sebagai guru honorer kan jalan terus,” tutur Agus.

Pada bulan Maret meski pandemic corona sudah mulai ramai, namun kegiatan resepsi pernikahan masih bisa berlangsung. Meski harus mengikuti aturan protocol kesehatan. Undangan yang masuk ruang resepsi dicek suhu tubuhnya, dan harus memakai hand saninitizier serta diperlakukannya jaga jarak (social distance).  Tetapi di berapa daerah di Ciamis dan Pangandaran pada bulan Maret dan April tersebut mulai membubarkan kegiatan resepsi pernikahan.

 Dan Ranger WO kata Agus pada bulan Maret tersebut mendapat kepercayaan di Sembilan titik acara resepsi.

“Dan sebelumnya, pada bulan Februari  ada 15 kegiatan,” jelasnya.

Ditangkap Polisi, Dua Begal Pura-pura Polos, Cium Tangan dan Berkelit Mengaku Bosan di Rumah

Dari 15 kegiatan resepsi yang dikelola Ranger WO menurut Agus tentu yang paling heboh dan sempat viral adalah resepsi pernikahan seorang ibu serentak bersama 3 anak perempuannya. Resepsi pernikahan empat pasangan pengantin sekaligus tersebut berlangsung di lapangan sepaka bola sebuah desa di Rajadesa Ciamis, Sabtu (25/2).

Sekarang setelah tidak ada kegiatan resepsi sebagai imbas corona kata Agus, ia dan rekan-rekannya mencoba mencari usaha lainnya berdasarkan kreatif masing-masing. “Ada yang rekan yang jualan baju atau fashion secara online. Ada juga jualan tajil, makanan dan minuman serta usaha lainnya. Kalau saya focus saja dulu sebagai guru (honorer). Mudah-mudahan kondisi segera pulih,” harap Agus.

Menurut Agus, di Ciamis ada belasan WO. Namun yang resmi bergabung dalam asosiasi WO Skuad Tasik, Ciamis, Banjar dan Pangandaran baru empat WO.

“Semuanya kena imbas dampak corona. Aktivitas WO terhenti sejak April, terpaksa menganggur dulu,” katanya 

Penulis: Andri M Dani
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved