Harga Sayuran Terus Merosot Tajam, Cabai Menyusut Paling Rendah

Harga sejumlah komoditas sayuran di Pasar Ciawitali Garut menurun. Kurangnya daya beli membuat harga sayuran anjlok. Penurunan harga terjadi

Tribunjabar/Firman Wijaksana
ILUSTRASI - Rinda Rabanda, pedagang sayur di Pasar Guntur Ciawitali, Garut merapikan cabai rawit merah, Jumat (10/1/2020). 

Laporan wartawan Tribun Jabar, Firman Wijaksana

GARUT, TRIBUN - Harga sejumlah komoditas sayuran di Pasar Ciawitali Garut menurun. Kurangnya daya beli membuat harga sayuran anjlok. Penurunan harga terjadi sebelum Ramadan. Bahkan diperparah saat pemberlakuan PSBB karena enggannya masyarakat untuk datang.

“Paling yang stabil itu bawang merah sama bawang putih. Kalau yang lain harganya sudah jatuh,” ucap Undang (60), salah seorang pedagang sayur di pasar tersebut, Jumat (8/5).

Harga bawang merah lokal berada di kisaran Rp 26.000 per kilogram. Sebelumnya, harga bawang merah lebih murah, yakni Rp 20.000 per kilogram.

Harga cabai juga ikut anjlok sejak dua pekan terakhir. Cabai merah gepeng dijual Rp 7.000 per kilogram. Padahal biasanya harga cabai merah gepeng di kisaran Rp 30-40.000 per kg.

“Cabai memang yang paling jatuh harganya. Cabai inul juga sama lagi murah. Di kisaran Rp 12- 13.000 per kg. Sebelumnya harga cabai inul itu Rp 40.000-an per kg,” katanya.

Harga mentimun menjadi komoditas yang paling drastis penurunannya. Biasanya harga mentimun Rp 2.500 per kg, saat ini hanya Rp 500 per kg. “Harga tergantung dari pembeli. Sekarang daya beli kurang, barang banyak jadi harga murah. Penurunan pembeli terjadi sejak tiga hari sebelum puasa sampai sekarang,” ucap Undang.

Namun adanya wabah korona membuat masyarakat enggan datang ke pasar. Ditambah pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) cukup berpengaruh terhadap jumlah pembeli.

“Tiga hari sebelum puasa, pembelinya sudah berkurang. Terus sekarang lagi PSBB semakin berkurang. Apalagi operasional pasar dibatasi sampai pukul 13.00,” ujar Undang.

Ia mengeluhkan dibatasinya jam operasional pasar karena berpengaruh terhadap penghasilannya. Padahal pada siang hari, merupakan masa banyak pembeli datang. “Kalau pagi itu belum banyak yang beli. Siang baru banyak yang borong. Tapi sekarang siangnya harus ditutup,” katanya.

Selama tiga hari PSBB, Undang menyebut kerap melanggar waktu operasional. Jika mengikuti aturan, ia tak bisa menjual barang dagangannya. “Nanti malah banyak sayuran yang busuk karena enggak terjual. Jadi suka sampai sore bukanya. Lihat situasi juga,” ucapnya.

Undang meminta pemerintah untuk melonggarkan jam operasional pasar. Apalagi pasar jadi salah satu tempat yang dicari warga untuk membeli kebutuhan sehari-hari. (*)

Penulis: Firman Wijaksana
Editor: Darajat Arianto
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved