Tingkatkan Kesehatan Tanah, Petani Milenial Polbangtan Bogor ini Ajak Manfaatkan Biochar Sekam

Biochar adalah padatan yang stabil, kaya karbon, dan dapat bertahan di tanah selama ribuan tahun.

ISTIMEWA
Vivit Munawaro mengajari petani membuat bichar dari sekam. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Syarif Abdussalam

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo, menegaskan bahwa pertanian merupakan satu di antara sektor yang menjadi penopang perekonomian Indonesia di tengah upaya menangani pandemi Covid-19. Peran petani generasi baru atau petani milenial, menurut Limpo, saat ini sangat diperlukan dalam pengelolaan pertanian modern.

“Saya makin percaya anak muda yang mau terjun di bidang pertanian bisa punya peluang kehidupan dan ekonomi yang lebih baik. Apalagi dengan memanfaatkan teknologi yang tersedia, maka dunia dalam genggaman anak muda ini,” ujar Menteri Syahrul dalam keterangan resminya, Rabu (22/4/2020).

Berdasarkan data saat ini, Indonesia memiliki 33,4 juta petani. Sebanyak 30,4 juta orang atau sekitar 91persen sudah berusia tua. Hanya 2,5 juta atau sekitar 9 persen yang merupakan petani muda. Padahal peran petani muda sangatlah penting untuk regenerasi demi menjaga ketahanan pangan dalam negeri.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian RI, Dedi Nursyamsi, menambahkan bahwa pertanian merupakan garda terdepan di tengah pandemi Covid-19 ini.

Untuk itu perlu pelopor pertanian yang diharapkan membuat jejaring untuk menarik minat generasi milenial menekuni usaha di bidang pertanian, selain sebagai penghela peningkatan produktivitas tenaga kerja pertanian serta produktivitas lahan dan komoditas.

Adalah Vivit Munawaro, petani milenial dari Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor yang tergerak dengan ucapan Mentan dan Kepala BPPSDMP. Mahasiswa tingkat IV Program Studi Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan Jurusan Pertanian ini sedang melaksanakan tugas akhir (TA) di Indramayu, Jawa Barat, tepatnya di Desa Juntikedokan, Kecamatan Juntinyuat.

“Saya mengamati ketika petani habis panen, proporsi sekam padi sebagai limbah pertanian adalah 16 hingga 28 persen dari jumlah gabah kering giling," ucap Vivit melalui ponsel, Rabu (22/4).

Kemudian, katanya, muncul ide untuk memanfaatkan sekam ini sebagai biochar atau arang aktif. Biochar adalah arang yang digunakan sebagai amandemen tanah untuk penyerapan karbon dan manfaat kesehatan tanah.

Biochar adalah padatan yang stabil, kaya karbon, dan dapat bertahan di tanah selama ribuan tahun. Seperti kebanyakan arang, biochar dibuat dari biomassa melalui pirolisis.

Menurut alumnus SMAN 1 Sindang Indramayu ini, sumber bahan baku biochar terbaik adalah limbah organik khususnya limbah pertanian. Ia pun mengajak kelompok tani (poktan) Sri Maju, tempatnya melaksanakan TA, bersama-sama membuat biochar dengan alat sederhana. Sebelumnya, Vivit menjelaskan kepada anggota kelompok tani tentang manfaat arang aktif ini.

“Saya jelaskan ke bapak ibu tani, bahwa arang aktif ini dapat meningkatkan kemampuan tanah menyerap air dan hara, menekan perkembangan penyakit tanaman, sebagai zat pembenah tanah dan memperbaiki kegemburan tanah,” tuturnya.

Halaman
12
Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam
Editor: Sugiri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved