Pakan Mahal Harga Jual Terjun Bebas, 2 Ribuan Ayam di Ciamis Tak Diberi Makan Kelaparan

Meski bulan ramadan masih sepekan lagi, para peternak ayam pedaging di Ciamis terpaksa

tribunjabar/andri m dani
ilustrasi ayam 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Andri M Dani

TRIBUNJABAR.ID, CIAMIS – Meski bulan ramadan masih sepekan lagi, para peternak ayam pedaging di Ciamis terpaksa membiarkan ribuan ayam mereka puasa lebih dulu. Bahkan sempat berhari-hari tidak diberi makan,  kelaparan.

Hal ini karena harga pakan makin  tak terjangkau, sedangkan harga jual ayam terpuruk jatuh ke angka terendah hanya Rp 8.000/kg.

“Pakannya sudah sulit, harga pakan makin mahal.  Kalau pun ada paling dikasih makannya sekali sehari. Kemarin bahkan sempat dua hari tidak diberi pakan, sampai keleleran karena kelaparan,” ujar Khodijah (38), peternak ayam pedaging di Lingkungan Desa Rt 01 RW 02 Kelurahan Benteng Ciamis kepada Tribun, Selasa (14/4/2020).

Menurut Khodijah, 19 hari lalu ia nekat mengisi kandangnya dengan 2.000 ekor day old chick (DOC) ayam ras pedaging jenis broiler (BR).

BREAKING NEWS, Kawasan Bandung Raya Segera PSBB, Kamis Suratnya Diajukan ke Menkes

Dengan target bisa panen saat munggahan (menjelang puasa) atau puasa nanti. Namun sejak sepuluh hari lalu pasokan pakan tidak lancar, bahkan tidak datang sama sekali.

“Padahal normalnya ayam harus diberi pakan dua kali sehari agar pertumbuhannya normal,” katanya.

Karena pasokan pakan tidak lancar, terlebih karena harga pakan naik tajam dari rata-rata Rp 7.200/kg jadi Rp 7.600/kg.

Pemberian pakan jadi terkendala dan tidak rutin. Kadang hanya sehari sekali, bahkan selama dua hari tidak diberi pakan, karena stok pakan tidak ada.

Proses Lelang untuk Pembangunan Senilai Rp 400 Miliar di KBB Dihentikan, Imbas Covid-19

“Sedih juga, tapi mau bagaimana lagi. Selama belasan tahun jadi peternak sejak 2002 lalu baru kali ini kondisi yang benar-benar parah,” tutur ibu dua anak tersebut.

Dalam kondisi normal ayam BR usia  19 hari katanya sudah bisa mencapai berat 5 ons per ekor.

“Sekarang baru 3 ons, pertumbuhannya telat, karena pemberian pakan tidak menentu. Mau dipanen tidak mungkin, umur ayamnya masih muda, bulu DOC-nya belum berganti seluruhnya. Belum layak konsumsi, kalaupun dijual harga ayam sekarang sangat murah. Dan juga siapa yang mau beli ayam sebesar ini. Kondisi sekarang benar-benar membingungkan,” ujarnya.

Penulis: Andri M Dani
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved