Cerita Warga Bandung Dapat Stigma Setelah Ayah Meninggal Berstatus PDP, Padahal Gagal Jantung

Di tengah pandemi virus corona, muncul stigma dan prasangka terhadap petugas medis dan orang yang meninggal.

torinoflash.it
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Mega Nugraha

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Di tengah pandemi virus corona, muncul stigma dan prasangka terhadap petugas medis dan orang yang meninggal.

Seperti halnya dialami seorang perempuan di Kota Bandung, sebut saja Indah (30).

Bapaknya, usia 61 tahun, meninggal di sebuah rumah sakit di Kota Bandung pada awal April dengan riwayat penyakit jantung namun tanpa pemeriksaan rapid test dan PCR.

Sang ayah berstatus pasien dalam pengawasan (PDP) Covid-19 meski belum didiagnosis positif terinfeksi virus corona.

Saat dihubungi melalui ponselnya, Indah menceritakan awalnya bapaknya dibawa ke rumah sakit oleh angggota keluarga dibantu warga sekitar.

Begini Skenario Berakhirnya Wabah Virus Corona, Vaksin Diprediksi Tersedia dalam 18 Bulan

Tiba di rumah sakit, mereka yang mengantar dicek suhu tubuh, termasuk bapaknya yang diberi alat bantu oksigen. Saat itu, kata dia, suhu tubuh bapaknya 36 derajat.

Tiba-tiba saja, tengah malamnya, suhu tubuh bapaknya meninggi jadi 39,5 derajat.

"Dan tiba-tiba saja, dokter di sana bilang ke ibu saya, 'suami ibu terindikasi covid-19'. Suami ibu harus diisolasi. Ibu dan keluarga harus isolasi. Ibu saya bilang, 'ini yang nolongin suami saya ke rumah sakit satu gang', dokter itu jawab, 'satu gang ibu harus isolasi'," ujar Indah, saat dihubungi via ponselnya, Minggu (5/4/2020).

Pengalamannya itu ia ceritakan lewat akun twitternya pada 3 April.

Halaman
1234
Penulis: Mega Nugraha
Editor: Theofilus Richard
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved