Mudik Tak Dilarang Bikin Daerah Pusing, Ini 8 Titik Masuk Kabupaten Garut yang Bakal Dijaga Ketat

Tak dilarangnya pemudik untuk pulang kampung ditanggapi serius Pemkab Garut. Kedatangan pemudik

Tribun Jabar/Firman Wijaksana
Wakil Bupati Garut, Helmi Budiman 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Firman Wijaksana

TRIBUNJABAR.ID, GARUT - Tak dilarangnya pemudik untuk pulang kampung ditanggapi serius Pemkab Garut. Kedatangan pemudik akan diawasi ketat agar tak menyebarkan virus corona.

Wakil Bupati Garut, Helmi Budiman, menyatakan, salah satu upaya yang dilakukan dengan melakukan penyaringan di delapan titik masuk ke Garut. Mereka yang dinyatakan sehat, akan ditekankan agar melapor ke pemerintahan setempat.

Kedelapan titik itu di antaranya Kadungora, Cijapati, Kamojang, Limbangan, Malangbong, Talegong, Cilawu, dan Cibiuk.

"Kalau sehat tetap harus lapor. Mulai dari ketua RT, RW, kades, hingga camat di lingkungannya masing-masing," ujar Helmi, Jumat (3/4/2020).

Helmi pun mengingatkan agar ketua RT, RW, kades, dan camat harus mengetahui jika ada warga pendatang dari luar daerah ke wilayahnya. Data pendatang yang masuk ke wilayahnya, harus dilaporkan camat ke Puskesmas setempat.

Selama Isolasi Mandiri, Ini yang Dilakukan Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika

"Tujuannya, agar warga yang datang dari luar daerah mendapatkan pengawasan dari petugas kesehatan. Selama ini penyebaran Covid-19, termasuk ODP banyak yang berasal dari kota-kota besar terutama Jakarta," katanya.

Para pendatang itu juga harus menjalani masa isolasi di rumahnya selama 14 hari. Hal ini harus dilakukan karena mereka secara otomatis statusnya masuk sebagai orang dalam pengawasan (ODP).

Helmi menambahkan, tenaga medis Puskesmas di Garut terpaksa menggunakan jas hujan sebagai alat pelindung diri (APD). Cara itu dilakukan karena minimnya APD.

Selain memakai jas hujan, para tenaga medis juga memodifikasi alat pelindung wajah. Tak adanya APD, membuat tenaga medis mencari solusi lain.

"Harus pakai APD lokal akhirnya. Terbuat dari plastik atau jas hujan karena APD tidak ada," ujarnya.

Kekurangan APD, diakui Helmi memang tengah dialami. Pihaknya kesulitan untuk mencari APD bagi para tenaga medis.

Ridwan Kamil Sambut Baik Rencana Fatwa Haram Mudik Saat Wabah Corona oleh MUI

"APD yang sesuai standar itu sulit didapat. Bukannya tidak ada anggaran untuk beli," katanya.

Helmi berharap dalam satu atau dua hari ini, APD bisa segera didapatkan untuk petugas medis di rumah sakit maupun Puskesmas. Pihaknya sudah memesan 1000 APD untuk penanganan Covid-19.

"Saya harap paling lama minggu depan APD sudah ada. Kami pesan 1000 APD, tapi sepertinya akan kurang kalau dibagi ke 62 Puskesmas," katanya.

Penulis: Firman Wijaksana
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved