Virus Corona di Jabar

Driver Ojol dan Pedagang Pasar Jadi Garda Terdepan Penyaluran Sembako bagi Warga Terdampak Covid-19

Driver ojek online, pedagang pasar tradisional, dan PT Pos, akan jadi garda terdepan untuk penyaluran bantuan tunai dan pangan senilai Rp 3,2 triliun

Tribun Jabar/Muhammad Syarif Abdussalam
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menggelar konferensi pers terkait virus corona. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Syarif Abdussalam

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Driver ojek online, pedagang pasar tradisional, dan PT Pos, akan menjadi garda terdepan untuk penyaluran bantuan tunai dan pangan senilai Rp 3,2 triliun kepada masyarakat yang ekonominya terdampak wabah Covid-19 di Jawa Barat.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan Pemprov Jabar sudah memutuskan bersama DPRD Jabar bahwa total anggaran penanggulangan Covid-19 di Jawa Barat sebesar Rp 16,2 triliun, terdiri dari Rp 3,2 triliun bantuan tunai dan pangan serta Rp 13 triliun untuk proyek padat karya yang akan mempekerjakan pengangguran baru yang terdampak Covid-19.

Anggaran bantuan tunai dan pangan sebesar Rp 3,2 triliun, atau Rp 500 ribu per bulan per keluarga ini, katanya, akan diberikan kepada 25 persen sampai 40 persen masyarakat ekonomi terbawah karena urutan 0 persen sampai 25 persen masyarakat ekonomi terbawah sudah ditanggung pemerintah pusat melalui program keluarga harapan.

Jabar Siap Beri Rp 5 T bagi Warga Terdampak Covid-19, Kepala Daerah Diminta Pastikan Data Penerima

"Rp 500 ribu per keluarga yang akan kami hadirkan secepatnya, karena hari ini masih proses pendataan, dari data itu akan keluar SK Walikota dan Bupati. Jika SK Walikota dan Bupati sudah keluar, kami akan mulai melakukan bantuan mulai minggu depan," kata gubernur yang akrab disapa Emil ini di Gedung Pakuan, Jumat (3/4).

Untuk program ini, katanya, pihaknya akan membeli kebutuhan pokok dari pedagang pasar. Dari Rp 500 ribu per keluarga sendiri, dua per tiganya adalah berupa kebutuhan pokok masyarakat dan sepertiga bagian lainnya berbentuk tunai.

"Kepada para pedagang pasar, tong hariwang, jangan khawatir. Kami akan membeli jika ada tren penurunan dalam penjualan di pasar, untuk sembako-sembako yang akan kami kirimkan. Pembelian sembako di pedagang pasar didukung oleh Bulog sebagai back up," katanya.

Kebutuhan pokok masyarakat tersebut, katanya, akan dikirim melalui PT Pos yang memiliki sistem pendaftaran dan data masyarakat, kemudian pengiriman dilakukan oleh driver ojek online daei berbagai aplikasi, diantarkan langsung ke rumah masyarakat terdampak.

"Setiap yang diberikan kepada yang berhak, maka kita membayar dengan insentif dan upah (kepada driver ojek online) yang datang dari anggaran Rp 3,2 triliun ini, kira-kira begitu," katanya.

Sehingga dalam proses mengamankan ekonomi rakyat yang terdampak Covid-19 ini, katanya, pedagang pasar tetap bisa mendapat pemasukan, kemudian para pengendara ojek online bisa dipekerjakan untuk mengirimkan barang-barangnya bersama PT Pos, dan paketnya diberikan kepada mereka yang berkesusahan.

"Kalau masih ada nanti menemukan ada warga yang harusnya dibantu tapi terlewat pendataan, akan diisi di gelombang kedua. Jadi kita menyisihkan 20 persen dari yang sekarang ada, untuk meng-cover mereka-mereka yang merasa perlu dibantu tapi tidak terdata," katanya.

Emil berharap cara ini berhasil dan berjalan lancar dalam empat bulan ke depan. Pihaknya juga sudah menghitung pemotongan gaji pejabat dan tunjangan ASN secara adil untuk dimanfaatkan menjadi dana tambahan penanggulangan Covid-19.

"Mereka yang pendapatannya pas-pasan tidak akan dipungut, tapi kepada mereka yang bisa memberikan lebih, itu akan diberikan pilihan-pilihan sumbangan bantuan, pemotongan dari penghasilannya. Ini juga dilakukan oleh Kota Sukabumi dan juga Kota Bekasi, jadi saya apresiasi," katanya. (Sam)

Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved