Melongok Sentra Topi di Bandung

Kisah Sukses Pengusaha Topi, Jatuh Bangun Sebelum Menjadi Besar, Berawal dari Topi Berkepang

JALAN Mahmud, Desa Rahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, sudah lama menjadi sentra topi. Sejak 1980-an kawasan ini menjadi tempat belanja da

TRIBUN JABAR/JANUAR P HAMEL
TOPI PESANAN - Rani memperlihatkan topi pesanan dari Malaysia di pabriknya, Jalan Mahmud, Desa Rahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, Kamis (19/3/2020). 

JALAN Mahmud, Desa Rahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, sudah lama menjadi sentra topi. Sejak 1980-an kawasan ini menjadi tempat belanja dan pemesanan topi. Di sepanjang jalan yang menembus ke Pemakaman Mahmud ini terdapat toko-toko dan pabrik penjual topi.

Rani (35), yang sekarang menjadi pengusaha meneruskan usaha ayahnya, mengaku sang ayah merintis usaha topi sejak 1985.

"Kalau orang tua dari 1985. Ya, jatuh bangun dulu. Awalnya mulai jualan es doger dulu. Kemudian jualan Al-Qur’an dan kelontongan," katanya di pabrik topi, Jalan Mahmud, Desa Rahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, Kamis (19/3) sore.

Saat itu, ayah Rani belajar sendiri dengan cara maklun ke pabrik-pabrik topi. Baru setelah bisa memutuskan untuk membuat topi sendiri.

KONFEKSI TOPI - Sejumlah penjahit sedang mengerjakan topi pesanan di konfeksi Gelar, Jalan Mahmud, Desa Rahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, Kamis (19/3) sore. Pemilik konfeksi sedang mengawasi kerja seorang pegawainya.
KONFEKSI TOPI - Sejumlah penjahit sedang mengerjakan topi pesanan di konfeksi Gelar, Jalan Mahmud, Desa Rahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, Kamis (19/3) sore. Pemilik konfeksi sedang mengawasi kerja seorang pegawainya. (TRIBUNJABAR/JANUAR P H)

"Bapak dulu menjahit sendiri. Jual sendiri keliling berjalan kaki. Jual keliling eceran saja. Itu yang diceritain orang tua saya. Itu yang dialami keluarga saya," kata Rani sambil wanti-wanti untuk tidak menyebutkan nama ayahnya.

Rani mengatakan, baru pada 1994 ada pemodal atau investor datang ke ayahnya. Orang itu meminta ayahnya membuat topi. "Jadi orang itu ngasih semangat. Suruh bikin, nanti topinya drop ke orang itu. Topinya yang ada kepangnya," kata Rani.

Keluarga Rani merupakan salah satu perintis usaha topi di kawasan Jalan Mahmud. "Selain bapak, masih banyak perintis lainnya, tapi sebagian lagi sudah berhenti berjualan topi," kata Rani.

Rani menjual topi-topinya di atas Rp 7.000. Paling mahal Rp 30 ribu. Itu untuk produk lokal. Kalau topi impor, Rani bisa menjual Rp 50 ribu per topi.

Karyawan sedang menjahit topi di pabrik topi, Jalan Mahmud, Desa Rahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, Kamis (19/3/2020).
Karyawan sedang menjahit topi di pabrik topi, Jalan Mahmud, Desa Rahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, Kamis (19/3/2020). (TRIBUN JABAR/JANUAR P HAMEL)

"Topinya impor dari Cina. Kalau dari Eropa kami tidak sanggup menyediakannya karena harganya mahal. Untuk topi impor sudah close. Kami stok topi impor dua bulan sebelumnya. Sebelum ada isu korona," kata Rani.

Topi yang disediakan Rani mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Bahkan, katanya, ada untuk anak yang berusia satu tahun. Ia juga melayani topi pesanan seperti untuk topi partai. Harganya bergantung bujet pemesan. Menurut Rani, harga topi pesanan belum tentu lebih murah dari topi ready stock.

"Kadang harganya lebih bisa dua kali lipat lebih mahal. Kalau pesanan tergantung bahan, tergantung jumlah, dan desain " katanya.

Karyawan membereskan topi di toko topi di Jalan Mahmud, Kamis (19/3/2020).
Karyawan membereskan topi di toko topi di Jalan Mahmud, Kamis (19/3/2020). (TRIBUN JABAR/JANUAR PH)

Menurut Rani, topi yang sedang banyak dicari pelanggan adalah topi rimba. Kemudian topi polosan untuk kegiatan gathering yang bisa disablon atau dibordir. Rani juga memiliki tempat untuk membordir topi-topi tersebut.
Topi-topi itu pun diproduksi Rani di pabrik yang jaraknya sekitar 500 meter dari tokonya.

"Kami sekarang sedang mengerjakan topi ke Malaysia. Jumlahnya 100.000 topi. Untuk partai di sana," katanya.

Rani tidak paham, mengapa tiba-tiba partai dari Malaysia bisa pesan topi kepadanya. "Biasanya informasi dari orang lain. Kami juga tadinya tidak kenal. Biasanya bagian pengadaan partai yang datang ke sini," ujarnya. (januar ph)

Editor: Januar Pribadi Hamel
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved