Dedi Mulyadi Jelaskan Filosofi Budaya Sunda yang Sangat Relevan Hindari Wabah Virus Corona

Saat ini wabah virus corona atau Covid-19 melanda ratusan negara di dunia, termasuk Indonesia.

istimewa
Dedi Mulyadi 

TRIBUNJABAR.ID - Saat ini wabah virus corona atau Covid-19 melanda ratusan negara di dunia, termasuk Indonesia. Hingga Minggu (29/3/2020) sore, di Indonesia sudah 1.285 orang positif terpapar Covid-19, sebanyak 114 orang meninggal dunia, dan 64 orang sembuh.

Terkait hal ini Budayawan Sunda, Dedi Mulyadi mengatakan Kebudayaan Sunda memiliki konsep tata kelola kehidupan yang sehat dan selaras dengan alam semesta. Tradisi nenek moyang di Jawa Barat itu bisa menjadi masukan bagi masyarakat saat ini, untuk menghindari bencana alam dan wabah seperti virus corona.

Menurut Dedi, satu aspek dalam kebudayaan Sunda disebut dengan istilah tri tangtu di buana, yakni pembagian tata ruang menjadi tiga wilayah. Ketiganya itu adalah dunia atas terdiri dari pegunungan, dunia pertengahan untuk perkampungan, dan dunia bawah yakni pantai. Di antara ketiganya memiliki jarak yang cukup jauh satu sama lain.

"Perkampungan penduduk ada di tengah itu untuk menghindari bencana, makanya tidak boleh ada perkampungan di lepas pantai dan gunung," kata Dedi melalui ponselnya, Minggu (29/3/2020).

Dedi mengatakan, konsep perkampungan penduduk dalam kebudayaan Sunda juga memiliki aturan tertentu. Salah satunya, setiap perkampungan tidak diperbolehkan berisi lebih dari 40 unit rumah untuk menjaga ekosistem dan ketersediaan pangan bagi para penduduknya.

BREAKING NEWS, Garut Mulai Besok Lockdown, 2.500 Tukang Cukur Pulang Kampung

Dedi Mulyadi semprotkan disinfektan memakai mobil pemadam kebakaran
Dedi Mulyadi semprotkan disinfektan memakai mobil pemadam kebakaran (istimewa)

"Kemudian, antara satu rumah dengan rumah lainnya harus berjarak mungkin bisa 40 meter. Saat ini, aturan tersebut sejalan dengan konsep jarak sosial (social distancing) untuk mencegah penyebaran virus corona," kata Dedi.

Di setiap rumah juga berlaku larangan bagi orang luar untuk memasuki ruang tengah. Bahkan masyarakat zaman dahulu kerap menyimpan bawang putih di pintu untuk mencegah masuknya virus.

Menurut Dedi, itu sebagai pantangan, selain melanggar privasi juga dikhawatirkan dapat menularkan penyakit. "Bayangkan kalau tamu berpenyakit masuk ke ruang tengah. Makanya dia hanya boleh sampai di depan," ujarnya.

Sementara itu, dalam hal yang lebih personal seperti aktivitas makan dan minum nenek moyang di Jawa Barat zaman dahulu juga dinilai apik. Dedi menceritakan kebiasaan mereka sebelum makan adalah  membersihkan tangan terlebih dahulu menggunakan garam.

Ciamis Akhirnya Lockdown Mulai Selasa, Setelah 4.200 Pemudik dari Zona Merah Pulang Kampung

Dedi mengatakan, khasiat garam menjadi antiseptik untuk membunuh bakteri dan virus. Sama halnya dengan daun sirih yang dijadikan makanan pencuci mulut setelah menyantap makanan utamanya.

"Jadi ada bawang putih, daun sirih, dan garam tadi untuk mencegah virus corona. Orang Sunda juga dilarang makan hewan pembawa penyakit, seperti kelelawar, tikus. Itu relevan untuk kehidupan saat ini," kata Dedi.

Dedi Mulyadi tengah meracik disinfektan
Dedi Mulyadi tengah meracik disinfektan (istimewa)

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Ini pun mengkritisi tata kelola pembangunan di Indonesia yang masih tersentralisasi di ibu kota dan sekitarnya. Dampaknya baru terasa setelah muncul wabah virus corona, kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung justru jadi sumber bencana.

Menurutnya, masyarakat urban yang tinggal di perkotaan banyak mengabaikan aspek keselarasan antara kehidupan manusia dan alam semesta. Untuk itu, Dedi mengajak semua pihak untuk mengevaluasi diri dan tata kelola yang selama ini dilakukan.

"Belum tentu corona ini penyakit yang terakhir. Makanya saya selalu ngomong revisi tata ruang, revisi tata ruang," kata mantan Bupati Purwakarta itu.

Ridwan Kamil : Kami Sedang Siapkan Lockdown di Zona Merah tapi Harus Izin Pemerintah Pusat

Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved