Pasien PDP Virus Corona yang Meninggal di Indramayu Langsung Dibawa Pihak Keluarga Lalu Dikremasi

Setelah dinyatakan meninggal, seorang PDP karena diduga terkena virus corona atau Covid-19 langsung dibawa pihak keluarga

Pasien PDP Virus Corona yang Meninggal di Indramayu Langsung Dibawa Pihak Keluarga Lalu Dikremasi
TribunCirebon/Handhika Rahman
RS Mitra Plumbon Indramayu, Rabu (25/3/2020). 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Handhika Rahman

TRIBUNJABAR.ID, INDRAMAYU - Setelah dinyatakan meninggal dunia di RS Mitra Plumbon Indramayu, seorang Pasien Dalam Pengawasan (PDP) karena diduga terkena virus corona atau Covid-19 langsung di kremasi oleh pihak keluarga.

Kremasi sendiri merupakan praktik penghilangan jenazah manusia setelah meninggal dengan cara dibakar, pasien tersebut diketahui beragama Katolik.

Direktur RS Mitra Plumbon Indramayu, dr. Dedi Rohendi mengatakan, masih di hari meninggalnya pasien, pihak keluarga dari Bekasi datang ke Indramayu untuk membawa jenazah.

"Jadi ahirnya pasien di bawa ke Cirebon untuk dikremasi kemarin sore jam 15.00 WIB berangkat dari sini," ujar dia kepada Tribuncirebon.com di rumah sakit setempat, Rabu (25/3/2020).

Sebelum Meninggal Dunia, PDP Virus Corona di Indramayu Sempat Dipegang Sopir Taksi Online

Diceritakan dr Dedi Rohendi, pasien tersebut meninggal dunia saat hendak dirujuk ke RSUD Indramayu selaku rumah sakit rujukan yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan.

Pasien meninggal pada Selasa (24/3/2020) pukul 11.40 WIB karena mendadak mengalami sesak napas berat sehingga nyawanya tidak bisa tertolong.

Ia merupakan laki-laki berusia 48 tahun warga Indramayu namun bertempat tinggal di Bekasi, pasien itu datang ke RS Mitra Plumbon Indramayu mengeluhkan panas, batuk berdahak, pilek, sesak napas, nyeri kepala, dan nyeri di seluruh tubuh.

Tim medis rumah sakit pun segera melakukan pemeriksaan fisik, rontgen dan uji laboratorium. Hasilnya pasien menunjukan gejala virus corona sehingga dikategorikan sebagai PDP.

Kendati demikian, hingga saat ini tidak diketahui secara pasti apakah pasien yang bersangkutan positif atau negatif virus corona.

Hal itu dikarenakan keterbatasan alat dan petugas yang dimiliki Pemkab Indramayu untuk melakukan uji swab tenggorokan.

Diketahui di Kabupaten Indramayu sendiri hanya terdapat satu orang petugas yang berpengalaman melakukan uji swab tenggorokan.

"Akhirnya ke Dinas Kesehatan untuk melakukan post-mortem tapi karena keterbatasan karena alat dan petugas jadi tidak jadi dilakukan," ucapnya.

"Jadi seperti itu swabnya belum, hasilnya apa kita tidak tahu karena tidak dilakukan," lanjut dr Dedi Rohendi.

Penulis: Handhika Rahman
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved