WNI Positif Terkena Virus Corona

Indonesia Disebut Telat Deteksi Virus Corona, Anggota DPR Ini Juga Tak Setuju Ada RS Khusus Corona

Anggota Komisi IX DPRRI, Adang Sudrajat, mengatakan, sebetulnya Indonesia termasuk yang telat mendeteksi (orang yang terjangkit korona).

Penulis: Lutfi Ahmad Mauludin | Editor: Kisdiantoro
Tribunjabar.id/Lutfi A Mauludin
Anggota Komisi IX DPRRI, Adang Sudrajat berkunjung ke Kabupaten Bandung, Kamis (12/3/2020). 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Virus korona telah mengakibatkan kematian ribuan orang di berbagai negara.

Di Indonesia, jumlah pasien positif terjangkit virus asal China itu terus meningkat.

Terakhir, satu orang pasien positif virus corona, yakni pasien kasus virus corono nomor 25, meninggal dunia.

Pasien corona 25 ini adalah perempuan warga negara asing yang sedang berada di Indonesia.

Anggota Komisi IX  DPRRI, Adang Sudrajat, mengatakan, sebetulnya Indonesia termasuk yang telat mendeteksi (orang yang terjangkit korona).

"Sebetulnya itu mungkin (sebelumnya) telah masuk ke Indonesia, tapi belum terdeteksi karena memang masyarakat tidak pro aktif memeriksakan diri seperti di Korea," ujar Adang, saat meninjau pembangunan RSUD, di Soreang, Kabupaten Bandung, Rabu (12/3/2020).

Antisipasi Corona, Batalyon C Pelopor Satbrimob Polda Jabar Bagikan Masker di Jalur Pantura Cirebon

Adang mengatakan, kalau Korea begitu masuk banyak yang terdeteksi karena Korea proaktif, ini juga terkait dengan anggaran yang ada.

"Selain itu juga fasilitas pemeriksaan hanya oleh satu instansi yaitu Balitbangkes di Jakarta sehingga terjadi pelambatan," kata Adang.

Saat disinggung apa ada kemungkinan jumlah yang terkena virus korona angkanya lebih banyak dari yang kini diketahui, Adang mengatakan, mudah-mudahan tidak.

"Sebab  mobilitas (masyarakat) ke luar negeri sudah menurun, yang dari luar ke sini juga, yang dari daerah terinfeksi diblok. Itu upaya, diharapkan jangan sampai terjadi lonjakan yang terinfeksi,' tuturnya.

Adang mengaku, kunjungannya ke Kabupaten Bandung yang merupakan daerah pemilihannya, dalam rangka melihat kesiapan dari masing-masing rumah sakit daerah terkait adanya korona.

" Jadi seperti apa untuk screening dan menangkal (korona) jangan sampai terjadi satu posisi, orang tidak terdeteksi dari awal tiba-tiba positif (corona)," ujarnya.

Sepanjang Tahun 2019, 394 Orang di Bandung Barat Mengidap HIV/AIDS

Adang mengaku, dirinya merupakan yang tidak merekomendasikan rumah sakit khusus korona tapi RS inveksi virus saja.

"Sebenarnya inveksi yang lebih banyak dan masif itu TBC jadi TBC itu kalau sudah resisten terhadap obat itu lebih ganas dari korona," kata Adang.

Menurut Adang,  korona itu virus, biasanya tidak lama akan hialng ganti dengan yang lain dengan mutasi dan sebagainya.

"Tapi kalau TBC itu sudah mengendap ratusan tahun di kita (Indonesia). Rumah sakit khusu TBC sudah ada ratusan tapi selalu penuh," ucapnya.

Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved