Ketika Industri Rumahan Ramaikan Pasar Kerudung, Saingi Brand Ternama

Persaingan pasar kerudung. Para produsen pun mengeluarkan berbagai jurus agar tidak tergerus

Ketika Industri Rumahan Ramaikan Pasar Kerudung, Saingi Brand Ternama
tribunjabar/januar pribadi hamel
Suasana Toko Rabbani di Jalan Buahbatu, Kota Bandung, Rabu (4/3/2020). Rabani kini merambah ke penjualan baju muslim. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Januar Pribadi Hamel

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Persaingan pasar kerudung. Para produsen pun mengeluarkan berbagai jurus agar tidak tergerus dalam persaingan tersebut. Tak hanya antarprodusen besar, skala rumahan pun ternyata mengganggu mereka yang memili brand ternama.

Ridwanul Karim (35), Asisten Direktur Marketing Rabbani, sangat merasakan hal tersebut. Menurut Iwang, panggilan Ridwanul Karim, mereka tak bisa menutup mata dengan perkembangan teknologi informasi.

"Yang kami rasakan untuk busana muslim tidak seperti dulu. Kalau dulu, kan hanya brand-brand tertentu saja sebagai teman balap karung. Sekarang, mah, mulai dari rumahan, ibu-ibu bisa memproduksi sendiri, tool untuk promosi dan marketingnya lebih mudah. Orang tinggal posting di media sosial dia bisa jualan ke mana-mana," kata Iwang di kantor Rabbani, Jalan Citarum, Kota Bandung, Rabu (4/3/2020).

Mereka, kata Iwang, lebih leluasa bergerak. Mereka biasanya hanya produksi 100 helai atau 200 helai, bisa belanja bahan di Cigondewah, memproduksi, mempromosikan atau menjualnya.

"Berbeda dengan kami yang memiliki ratusan outlet. Kami harus memproduksinya dari nol. Mulai dari pengadaan bahan baku, proses produksi, sudah itu, kan, harus ada perizinan dan lain-lain. Jadi, pesaing-pesaing itu justru dari pemain kecil," kata Iwang.

Lagi pula, menurut Iwang, penjualan di online harganya tidak masuk akal. Apalagi, katanya, membanjirnya produk-produk dari Cina yang harganya murah-murah. "Harganya bisa Rp 10.000 atau 15 ribu. Itukan enggak rasional," katanya.

BREAKING NEWS, 4 Mantan Bintang Persib Bandung Resmi Gabung PSKC Cimahi, Besok Launching

Suasana Toko Rabani di Jalan Buahbatu, Kota Bandung, Rabu (4/3/2020) 2
Suasana Toko Rabbani di Jalan Buahbatu, Kota Bandung, Rabu (4/3/2020) 2 (tribunjabar/januar pribadi hamel)

Iwang berpendapat, gangguan tersebut membuatnya tidak bisa melenggang lagi. "Kami harus berhati-hati lagi. Kami harus punya sesuatu dan itu menjadi tantangan sebagai pioner busana muslim," kata Iwang.

Menurut Iwang, kini mereka setelah produksi tidak bisa menjual paksa, harus memikirkan pasarnya ke mana. Dalam segi harga, katanya, berat, untuk itu harus bermain di kualitas.

"Kami berbicara di uniknya, produk dan lain-lain, justru itulah muncul ide-ide kreatif teman-teman desainer dan pemasaran. Menjadi tambahan adrenalin karena banyaknya persaingan," kata Iwang.

Halaman
1234
Penulis: Januar Pribadi Hamel
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved