2 Kasus Korupsi di Kepolisian Macet, Garut Governance Watch: Kasusnya Dilanjut atau Dihentikan?

Ketua GGW, Agus Sugandi, mengatakan, ada dua kasus korupsi yang macet di Polres Garut. Yakni kasus dugaan korupsi sapi potong

2 Kasus Korupsi di Kepolisian Macet, Garut Governance Watch: Kasusnya  Dilanjut atau Dihentikan?
Tribun Jabar/Firman Wijaksana
Ketua Garut Governance Watch (GGW), Agus Sugandi (kiri) saat mengadakan konferensi pers terkait penanganan kasus korupsi di Sekretariat GGW, Jalan Gordah, Tarogong Kidul, Sabtu (29/2/2020) 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Firman Wijaksana

TRIBUNJABAR.ID, GARUT- Garut Governance Watch (GGW) mempertanyakan sejumlah penanganan kasus korupsi yang mandek di kepolisian. Kasus tersebut sudah ditangani kepolisian lebih dari setahun.

Ketua GGW, Agus Sugandi, mengatakan, ada dua kasus korupsi yang macet di Polres Garut. Yakni kasus dugaan korupsi sapi potong pada anggaran 2015 dan pembangunan Sarana Olahraga (SOR) Ciateul.

Hingga kini, kedua kasus itu tak jelas ujungnya. Bahkan masyarakat tak mendapat informasi kelanjutan kasus itu.

"Apakah kasusnya dilanjut atau dihentikan? Kami sudah kirim surat audensi ke Polres tapi belum ada jawaban," ujar Agus di Sekretariat GGW, Jalan Gordah, Tarogong Kidul, Sabtu (29/2/2020).

Kasus sapi, contohnya, dilaporkan masyarakat sejak 2018. Hampir dua tahun, tidak ada kejelasan penanganannya. Padahal, pihaknya menemukan ada penyimpangan dalam kasus tersebut.

"Kami baru ambil sampel di satu kecamatan yakni di Cisompet. Di sana kami temukan jika penerima manfaat sapi potong dimintai uang Rp 5 juta per ekornya. Uang itu untuk mengganti ongkos transportasi," katanya.

Kasus Korupsi Dana Pokir dari Nol Lagi, Mulai Maret Kejari Garut Periksa Saksi-saksi

Pejabat KBB yang Terjerat Kasus Korupsi Perekrutan TKK Diberhentikan Sementara

Ada 94 ekor sapi yang diterima kelompok peternak di Cisompet. Jika per ekor diminta uang Rp 5 juta, total uang yang dipungut dari peternak mencapai Rp 470 juta.

"Peternak diminta uang oleh oknum. Rp 3,5 juta sebelum sapi datang dan Rp 1,5 juta saat sapi datang," katanya.

Sapi tersebut didistribusikan pada 23 Desember 2015 dan pengadaannya pada November 2015. Pada 2016, ada satu oknum yang meminta 36 ekor sapi kepada para peternak. Tidak ada alasan yang disampaikan oleh oknum itu.

"Peternak cuma dikasih tahu kalau penarikan itu sebagai kompensasi pengadaan sapi. Mereka lalu hanya dikasih Rp 3,5 juta per ekor," ujarnya.

Harga sapi per ekor mulai dari Rp 10 juta sampai Rp 11 juta. Jika satu ekor sapi yang ditarik hanya dibayar Rp 3,5 juta, artinya peternak rugi Rp 6,5 juta.

"Tinggal dikali saja 36 ekor sapi sama Rp 6,5 juta. Totalnya Rp 234 juta. Peternak malah rugi Rp 1,5 juta loh, karena dulu diambil uang akomodasi Rp 5 juta. Terus saat sapi ditarik hanya dibayar Rp 3,5 juta. Belum mereka kasih pakan ternak selama berbulan-bulan," katanya.

Dari anggaran pengadaan sapi untuk Cisompet sebesar Rp 1,005 miliar, kerugian peternak bisa mencapai Rp 700 juta. Artinya yang diterapkan dari anggaran pengadaan sapi itu hanya Rp 300 juta.

"Ini baru satu kecamatan. Belum kecamatan lain karena pengadaannya ada di beberapa kecamatan di wilayah selatan dan utara Garut," ucapnya.

Penulis: Firman Wijaksana
Editor: Tarsisius Sutomonaio
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved