Perajin Tas Ciheulang, Modal Nekat Buka Usaha Konfeksi, Ada Juga yang Maklun Dulu ke Pabrik Tas

JALALUDIN (33) tadinya tak berniat menjadi perajin tas. Namun, pengalamannya bekerja membawanya untuk menggeluti konfeksi. Ia tadinya bekerja di sebu

Perajin Tas Ciheulang, Modal Nekat Buka Usaha Konfeksi, Ada Juga yang Maklun Dulu ke Pabrik Tas
TRIBUN JABAR/JANUAR P HAMEL
Perajin Tas Ciheulang Ciparay. 

TRIBUNJABAR.ID - JALALUDIN (33) tadinya tak berniat menjadi perajin tas. Namun, pengalamannya bekerja membawanya untuk menggeluti konfeksi. Ia tadinya bekerja di sebuah perusahaan provider telekomunikasi.

"Saya memutuskan keluar (kerja) karena ternyata bekerja sendiri itu lebih enak," kata Jalaludin di rumahnya di Desa Ciheulang, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, Kamis (20/2).

Jalaludin pun memutuskan itu karena di lingkungan keluarganya memang banyak menjadi pengusaha tas. Namun mereka bukan di Ciheulang, melainkan tinggal di Kampung Cilame, Desa Narawita, Cicalengka, Kabupaten Bandung.

Jalaludin, satu di atara puluhan perajin tas di Desa Ciheulang, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung. Bapak berputra tiga ini tidak lantas membuka konfeksi tas sendiri. Dia harus memulainya dengan memaklun ke sebuah parik tas di Taman Kopo Indah. Selama tiga tahun, dia membuat tas sesuai pesanan pabrik tas tersebut.

Dari cara maklun itu, Jalaludin mengaku mendapat pelajaran berharga. Setelah merasa bisa, dia membuka konfeksi miliknya sendiri di rumahnya.
"Kalau ngamaklun selama tiga tahunan, kalau mulai membuka usaha sendiri satu tahunan," kata Jalaludin.

Perajin tas lainnya, Ajat Sudrajat (33), sebelum membuka usaha membuat tas sendiri bekerja dulu di pabrik tas di Jalan Moh Toha, Kota Bandung, selama lima tahun.

Yang membuat Ajat memutuskan untuk membuka usaha sendiri ketika melihat bapaknya sedang menarik becak di kawasan Regol. Waktu itu, kata Ajat, pukul 01.00.

"Saya sedih melihat bapak tengah malam harus bekerja. Kan, harusnya istirahat. Dari sana muhasabah, apakah saya ini mau begini terus," kata Ajat di Desa Ciheulang, Kecamatan Ciparay, Kamis (19/2).

Perajin Tas Ciheulang Ciparay
Perajin Tas Ciheulang Ciparay (TRIBUN JABAR/JANUAR P HAMEL)

Besoknya, Ajat berdiskusi dengan bapak dan ibunya. Dia mengungkapkan keinginannya hidup mandiri. Hasil diskusi itu memutuskan, mereka menjual televisi untuk modal.

"Saya mah modal nekat, kan harus bisa membetulkan mesin, membuat pola, ngorder, dan lain-lain," kata Ajat.

Jalaludin, Perajin Tas Ciheulang
Jalaludin, Perajin Tas Ciheulang (TRIBUN JABAR/JANUAR P Hamel)

Ajat memutuskan belajar sambil berjalan dan mempraktikan apa yang telah diperolehnya di pabrik tas. Ia terus praktik, kalau tas bikinannya ada kekurangan ia ubah, begitu seterusnya hingga akhirnya bisa.

"Saya juga harus bisa mematok harga menghitung supaya ke konsumen tidak kemahalan dan ke sayanya juga tidak rugi," katanya. (januar ph)

Editor: Januar Pribadi Hamel
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved