Reaktivasi Kereta Api di Garut, Warga yang Terdampak Ingin Rumah Baru, Tapi Tak Minta Gratis

Warga terdampak reaktivasi kereta api menuntut pemerintah menyediakan tempat tinggal bagi mereka. Warga tak meminta rumah gratis kepada pemerintah.

Tribun Jabar
Ilustrasi Reaktivasi Jalur Kereta 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Firman Wijaksana

TRIBUNJABAR.ID, GARUT - Warga terdampak reaktivasi kereta api menuntut pemerintah menyediakan tempat tinggal bagi mereka. Warga tak meminta rumah gratis kepada pemerintah.

"Kami hanya ingin difasilitasi untuk punya rumah. Tidak minta gratis karena kami juga sadar. Hanya ingin dipermudah saja persyaratannya. Sejak awal itu tuntutan kami," ujar Sihabudin, salah seorang tokoh masyarakat terdampak rel, Sabtu (22/2/2020).

Warga di Kelurahan Pakuwon, Kecamatan Garut Kota, membentuk forum masyarakat terdampak rel kereta. Forum itu untuk memperjuangkan keinginan warga untuk memiliki rumah.

Persib Bandung Bermain Lamban, Sulit Ciptakan Gol Lawan Tim Selevel, Robert Salahkan Rumput Stadion

"Sekarang kontrak rumah sebulan Rp 500 ribu, sedangkan nyicil rumah Rp 850 ribu. Hanya beda sedikit, tapi nyicil (rumah) bisa jadi hak milik," katanya.

Pihaknya sudah mengusahakan keinginan warga tersebut hingga ke istana. Namun pemerintah masih belum mendapat kepastian.

Sihabudin menambahkan, bentuk kepedulian datang dari pihak swasta yang membantu warga untuk memiliki rumah.

"Sekarang ada proyek percontohan dulu dari Hamasah Grup. Ada 58 kepala keluarga yang sedang berproses memiliki rumah. Yang 15 malah sudah tinggal akad," ujarnya.

Sihabudin menyebut, ada sekitar 1000 kepala keluarga yang terdampak reaktivasi.

Kebanyakan berasal dari Kelurahan Suci Kaler, Kecamatan Karangpawitan hingga Keluraha Pakuwon, Garut Kota.

Halaman
12
Penulis: Firman Wijaksana
Editor: Theofilus Richard
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved