Sultan Keraton Kasepuhan Cirebon Akui Situs Matangaji Belum Terdaftar sebagai Cagar Budaya

Sultan Sepuh XIV, PRA Arief Natadiningrat, mengakui Situs Matangaji di Kelurahan Karyamulya, Kecamatan Kesambi

Penulis: Ahmad Imam Baehaqi | Editor: Ichsan
tribunjabar/ahmad imam baehaqi
Kondisi terkini Situs Matangaji di Kelurahan Karyamulya, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon, Jumat (21/2/2020). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ahmad Imam Baehaqi

TRIBUNJABAR.ID, CIREBON - Sultan Sepuh XIV, PRA Arief Natadiningrat, mengakui Situs Matangaji di Kelurahan Karyamulya, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon, belum terdaftar sebagai cagar budaya.

Namun, ia merasa prihatin situs yang merupakan warisan sejarah tersebut rusak akibat ulah oknum tidak bertanggung jawab.

Padahal, menurut dia, warisan sejarah seperti situs harus dilestarikan dan dijaga keberadaannya.

"Sekarang sudah rusak, kami hanya ingin situs itu dikembalikan seperti semula," kata Arief Natadiningrat saat ditemui di Keraton Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jumat (21/2/2020).

Ia mengatakan, berdasarkan usia Situs Matangaji sudah memenuhi syarat menjadi cagar budaya.

Meski Tembok Penahan Tanah Ambruk, Tak Ganggu Arus Lalu Lintas Jalan Nasional di Limbangan

Pasalnya, situs yang dibangun Sultan Sepuh V, Sultan Matangaji, tersebut diperkirakan telah berusia lebih dari 100 tahun.

Menurut Arief, dari catatan sejarah masa kepemimpinan Sultan Matangaji berlangsung pada 1800-an.

Karenanya, diperkirakan pembangunan Situs Matangaji itu berlangsung kala Sultan Matangaji memimpin keraton.

"Benda atau bangunan yang dinyatakan situs minimal berusia 50 - 100 tahun, berarti Situs Matangaji ini sudah masuk kategori itu, hanya belum dibuatkan SK," ujar Arief Natadiningrat.

Situs Matangaji sendiri rusak akibat tertimbun proyek pembangunan perumahan di kawasan tersebut.

Pemkot Bandung Gelar Pertemuan dengan Satgas Anti Mafia Bola, Bahas Stadion GBLA

Sebagian areal situs yang berada di tepi sungai itu tampak dipenuhi urugan tanah sehingga hampir tidak terlihat lagi.

Bagian situs yang masih tersisa hanyalah beberapa lubang seperti terowongan setinggi kira-kira satu meter.

"Memang untuk mengeluarkan SK suatu situs banyak pertimbangannya, misalnya biaya pemeliharaan, dan sementara anggaran pemerintah terbatas," kata Arief Natadiningrat.

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved