Longsor di Tepi Tol Cipularang, Ahli dari ITB Sarankan Kendaraan Berat Dibatasi Sementara Waktu
Menurut Imam Achmad Sadisun, standar jalan Tol Cipularang sudah didesain sangat kuat dan aman. Meski begitu, lereng di samping jalan harus diperhatika
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG- DR. Eng. Imam Achmad Sadisun ST, MT, ahli geologi teknik Institut Teknologi Bandung (ITB), mengatakan, konstruksi Jalan Tol Cipularang Km 118+600 arah Jakarta dan sebaliknya aman dilalui kendaraan meski sempat terdampak longsoran lereng.
Menurutnya, standar jalan Tol Cipularang sudah didesain sangat kuat dan aman. Meski demikian, lereng di samping jalan, kata Imam, harus diperhatikan karena bisa saja menyeret jalan Tol Cipularang.
"Jadi, konstruksi jalan itu sudah kuat sekali, pakai lapisan pasir dan kerikil dengan material yang memang baik untuk fondasi jalan, ada lapisan pasir di bawahnya, ada aspal dan betol yang dibuat berlapis-lapis. Lereng-lereng yang di sekitarnya yang perlu diperhatikan," ujarImam Achmad Sadisun saat dihubungi, Senin (17/2/2020).
Menurut Imam, sebenarnya longsor itu bisa terjadi di mana saja, selama ada lereng, baik lereng alamiah maupun lereng buatan yang ditimbun.
"Yang terjadi di KM 118, itu memang ada longsor di salah satu lereng. Saya cermati waktu itu (longsornya) terjadi pada lereng alami yang memang sudah ada sejak dulu," katanya.
• Likuefaksi Picu Longsor di Tol Cipularang, Menteri Basuki Hadimuljono Jamin Tol Masih Aman Dilalui
• VIDEO-Menteri PUPR Sebut Longsor Tebing Jalan Tol Cipularang Seperti Likuefaksi
Menurut Imam Achmad Sadisun, asalkan ditangani dengan cepat dan tepat, longsoran itu tidak akan berkembang sampai menyeret jalan Tol Cipularang dan seterusnya.
"Nah, saya kira lereng longsoran bagian terakhir akan berhenti di sana saja, kecuali kalau didiamkan saja, nanti akan menyeret (jalan tol), akan muncul longsoran susulan yang suatu saat mungkin istilahnya ada mahkota longsoran itu ujung paling atasnya," ucapnya.
Jasa Marga, kata Imam, tengah menangani longsoran lereng tersebut dengan mendatangkan alat berat dan alat untuk memperkuat lereng.
"Itu dalam rangka untuk memperkecil longsoran susulan. Potensi untuk longsoran pasti ada. Cuma potensi itu bisa juga dianulir kalau memang Jasa Marga sigap," kata Imam Achmad Sadisun.
Imam menyarankan, selama proses perbaikan, sebaiknya kendaraan besar dengan muatan berat tidak diperbolehkan lewat sementara waktu.
"Saya dengar juga Jasa Marga membatasi kendaraan berat, tidak boleh lewat dulu. Kalau kendaraan besar atau berat lewat, kan bisa terasa kuat getarannya. Jadi tidak boleh sekarang, dalam proses pengerjaan," ucap Imam Achmad Sadisun. (nazmi abdurahman)