EKSKLUSIF: Ratusan Pabrik Dodol Terancam Tutup, Stok Gula Rafinasi Hanya Cukup untuk Seminggu

Tanpa adanya pasokan baru gula rafinasi, diperkirakan industri dodol yang merupakan ini makanan khas ini hanya akan bertahan satu atau dua minggu lagi

EKSKLUSIF: Ratusan Pabrik Dodol Terancam Tutup, Stok Gula Rafinasi Hanya Cukup untuk Seminggu
Tribun Jabar/Firman Wijaksana
Pekerja produksi dodol Baraya di Desa Kersamenak, Kecamatan Tarogong Kidul, sedang mengolah dodol di kuali besar, Selasa (4/2/2020). Pengusaha dodol mengeluhkan langka dan naiknya harga bahan baku gula sejak akhir Januari. 

Yudi mengatakan, kenaikan harga gula rafinasi yang terjadi belakangan ini tak menjadi masalah selama stoknya tersedia.

"Kalau barangnya tidak ada di pasaran, itu yang saya khawatirkan. Bisa-bisa enggak produksi," ujar Yudi saat ditemui Tribun di pabriknya di Desa Kersamenak, Kecamatan Tarogong Kidul, Selasa (4/2/2020).

Padahal, produksi dodol dari pabriknya, kata Yudi, sudah menyuplai sejumlah supermarket di Indonesia. Jika produksi terhenti akibat tak ada gula, ia akan terkena denda dari pihak supermarket.

"Makanya lebih baik harga mahal tapi gulanya ada. Daripada tidak ada gula, kerugiannya dobel. Sudah tidak produksi, terus kena penalti. Saat ini stok yang saya punya paling tinggal untuk sepekan lagi. Saya beli ke distributor, katanya stok sudah menipis," ucapnya.

Meski untuk membuat dodol gula lokal sebenarnya juga bisa dipergunakan, penggunaan gula lokal, menurut Yudi, sama sekali bukan pilihan bagi para pengusaha dodol karena terlalu mahal.

Catat Tanggalnya! Oktober Ini Indramayu Akan Pecahkan Rekor MURI Dodol Gincu Terpanjang di Dunia

Bawa Dodol dari Bandara Kualanamu Tambah Ongkos Rp 2,5 Juta, Taufik: Gila Kalau Seperti Ini

Harga gula lokal per kilogram mencapai Rp 12 ribu, sementara kenaikan ongkos produksi yang drastis pasti berdampak ke harga jual dodol.

"Konsumen kan enggak mau harga dodol naik. Mereka juga enggak mau tahu masalah kami apa. Paling penting bisa beli dodol dengan harga yang sama," katanya.

Yudi Risyanto, pemilik dodol Baraya.
Yudi Risyanto, pemilik dodol Baraya. (Tribun Jabar/Firman Wijaksana)

Hingga Selasa lalu, stok gula rafinasi di gudang milik Yudi tinggal 15 karung. Setiap karung beratnya sebesar 50 kilogram. Dalam setiap pembuatan dodol, ia harus menggunakan tiga sampai lima karung gula rafinasi.

Setiap bulan, pabrik dodol yang berdiri sejak 2012 itu memproduksi 10 ton. Jumlah itu juga jauh menurun dari 2014 yang biasa memproduksi 35 ton dodol per bulan.

Yudi mengatakan, meski kelangkaan gula rafinasi biasa terjadi setiap tahun, kelangkaan tahun ini adalah yang terparah. "Sekarang gula rafinasi sampai hampir enggak ada di pasaran. Biasanya stok ada cuma harga memang fluktuatif. Kenaikan juga terjadi menjelang hari raya," ujarnya.

Halaman
123
Penulis: Firman Wijaksana
Editor: Tarsisius Sutomonaio
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved