Bisnis Lobster Air Tawar

Peluang Bisnis Menjanjikan, Permintaan Lobster Air Tawar Masih Banyak

MENURUT Yayat Ruchyat (55), pasokan lobster air tawar masih kekurangan dibanding permintaan. Peluang bisnis losbster masih menjanjikan, katanya.

Peluang Bisnis Menjanjikan, Permintaan Lobster Air Tawar  Masih Banyak
Tribun Jabar/Januar P Hamel
Komarudin, Pebisnis Lobster Air Tawar 

MENURUT Yayat Ruchyat (55), pasokan lobster air tawar masih kekurangan dibanding permintaan. Termasuk untuk ekspor yang membutuhkan kira-kira minimal 8 ton per bulan. Peluang bisnis losbster masih menjanjikan, katanya.

Yayat mengatakan negara-negara yang membutuhkan lobster air tawar hasil budi daya dari Indonesia adalah Korea dan Cina. Berat lobster yang diekspor paling kecil, menurutnya, mencapai 35 gram hingga 50 gram.

"Berbeda dengan kebutuhan lokal, berat lobsternya mencapai 50 gram sampai 150 gram. Satu kilo isi 20 biji dan satu kilo isi tujuh tergantung ukuran lobsternya," kata Yayat di rumahnya di Jalan Sekar Gambir I, Selasa (28/1/2020).

Lobster-lobster tersebut, kata Yayat, dikemas dalam styrofoam. Biasanya lobster hidup, tapi bagaimana permintaan. Sekarang ada permintaan lobster beku juga.

"Kalau permintaan lokal, pengirimannya ke Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Denpasar. Kalau di Bandung dikirim ke daerah di Bandung Barat," katanya.

Pembudi daya lobster lainnya, Komarudin mengaku penyediaan lobster masih kekurangan dan untuk ekspor sangat terbuka lebar. Oleh karenya, katanya, peluang bisnis lobster masih terbuka.

"Saya memasok lobster ke beberapa restoran di Bandung, di Dago ada dua restoran, Pasirkoja ada satu, Sumedang, Cianjur, Jakarta, dan Surabaya," ujarnya di tempat penangkaran lobster air tawar di Gang Pusri, Jalan Soekarno Hatta, Kamis (30/1/2020).

Komar juga pernah sekali melakukan ekspor. Tapi, katanya, sekarang tidak lagi karena kebutuhan di dalam negeri masih belum terpenuhi.

Komarudin, Penangkar Lobster
Komarudin, Penangkar Lobster (Tribun Jabar/Januar P Hamel)

"Kalau sudah ngomongin ekspor itu tonan per hari per eksportir. Jadi memang pasokannya kurang. Kalau ke Jakarta bisa 600 kiloan per bulan. Kalau Bandung 100 kiloan karena mungkin pasarnya beda, Bandung mah," katanya.

Murutnya untuk pemasaran lobster sangat mudah. Dia mengaku memasarkannya melalui online, di website dan media sosial. Jadi, katanya, orang yang menbutuhkan yang mencari dia.

"Bukan kami yang mencari pembeli. Itu yang saya alami selama budi daya lobster. Alhamdulillah, penghasilannya bisa di atas Rp 10 juta rata-rata per bulan. Tapi tergantung kami menghasilkan lobsternya juga," katanya.

Yayat, Pembudi Daya Lobster
Yayat, Pembudi Daya Lobster (Tribun Jabar/Januar P Hamel)

Menurut Yayat, musim kemarau, lobster sulit didapat. Sekarang, saat musim hujan mulai lagi. Kalau yang minta langsung mereka yang mecarinya lewat WA atau telepon.

"Paling untuk pengadaan mengandalkan tangkapan alam di sungai, sekitar Maret. Tangkapan alam di Lampung," katanya. (januar ph)

Editor: Januar Pribadi Hamel
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved