Dedi Mulyadi: Bayi Lobster Boleh Dijual, Sama Saja Bunuh Nelayan Perlahan

Menurut Dedi Mulyadi, revisi aturan larangan penangkapan bayi lobster demi kepentingan jangka pendek saja dan tak mempertimbangkan konservasi kelautan

tribun bali
Ilustrasi bayi lobster 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, M Syarif Abdussalam

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG- Wakil Ketua Komisi IV DPR Dedi Mulyadi angkat bicara terkait dengan legalitas penjualan bayi lobster.

Dedi meminta Menteri Kelautan dan Perikanan RI untuk berhati-hati merevisi peraturan tersebut karena akan merugikan negara dan nelayan.

Menurut Dedi Mulyadi, revisi aturan larangan penangkapan bayi lobster hanya untuk kepentingan jangka pendek dan tidak mempertimbangkan konservasi kelautan.

"Revisi (Peraturan KKP) harus hati-hati, harus mempertimbangkan konservasi lingkungan. Bicarakan dengan pakar-pakar kelautan yang berpihak bagi kepentingan nelayan," kata Dedi Mulyadi melalui ponsel, Kamis (30/1/2020).

Menurutnya, memperjuangkan kepentingan nelayan itu bukan berarti semua keinginan mereka hari ini harus dipenuhi. Ada aturan yang boleh direvisi dan ada yang tidak.

Aturan yang diharapkan tidak boleh direvisi adalah terkait legalitas penjualan bayi lobster.

Ketua DPD Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi di Purwakarta, Minggu (2/6/2019).
Ketua DPD Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi di Purwakarta, Minggu (2/6/2019). (Istimewa)

Ono Surono Sebut Benih Lobster Ibaratkan Narkoba, Pemerintah Harus Terus Bongkar Praktik Ilegal

Nelayan Tolak Ekspor Benih Lobster di Depan Edhy Prabowo

Aturan itu tercantum dalam Peraturan Menteri (Permen) KP No 56 tahun 2016 yang menyebutkan larangan penangkapan bayi lobster, kepiting, dan rajungan.

Menurutnya, jika bayi lobster dijual, maka Indonesia akan mengalami kekurangan bibit yang tentu saja akan merusakan masa depan kelautan.

Ia menyadari, rencana Menteri Kelautan Edhy Prabowo melakukan revisi Permen KP Nomor 56 itu demi kepentingan nelayan juga. Namun revisi itu juga harus mempertimbangkan kelestarian ekosistem laut demi masa depan bangsa.

"Logika ingin memakmurkan nelayan itu harus seiring dan sejalan dengan logika menjaga konservasi kelautan. Karena kalau logikanya digunakan untuk memakmurkan tanpa mempertimbangkan itu (konservasi kelautan) akan membunuh nelayan jangka panjang," kata Dedi Mulyadi.

Misalnya bayi lobster diperbolehkan ditangkap dan diperjualbelikan, ucap Dedi Mulyadi, nelayan akan kehilangan lobster yang jauh lebih ekonomis.

"Lobster itu harganya Rp 4 juta tapi bayi lobster itu cuma ratusan ribu. Coba mending pilih mana," katanya.

Soal Budi Daya Lobster, Susi Pudjiastuti Skak Ridwan Kamil, Mestinya Pemimpin Daerah Belajar

Tangkis Pernyataan Edhy, Susi Beberkan Data Ekspor Lobster Indonesia Meningkat Sejak 2016

Lalu ke depan, kata Dedi, Indonesia akan mengalami krisis bayi lobster. Sementara negara lain akan menjadi penghasil lobster terbesar di dunia.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved