Cuma Bisnis Kerajinan dari Tali, Pria Asal KBB Itu Kini Omzet Usahanya Capai Rp 200 Juta Per Bulan

Merlin Sukmayadin, warga Kompleks Puri Cipageran Indah 2 Blok C8 Nomor 35, Desa Tanimulya, Kecamatan Ngamprah,

Cuma Bisnis Kerajinan dari Tali, Pria Asal KBB Itu Kini Omzet Usahanya Capai Rp 200 Juta Per Bulan
Tribunjabar/Hilman Kamaludin
Merlin Sukmayadin yang berbisnis kerajinan dari tali 1 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.ID, NGAMPRAH - Merlin Sukmayadin, warga Kompleks Puri Cipageran Indah 2 Blok C8 Nomor 35, Desa Tanimulya, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB) menggeluti bisnis yang sangat menggiurkan meski hanya bisnis kerajinan dari seutas tali.

Pria berusia 36 tahun ini, membuat kerajinan gelang, gantungan kunci, gantungan dompet dan kerajinan lainnya dari bahan dasar tali parachute (paracord) yang awalnya dijual di lapak emperan seperti di lokasi Car Free Day (CFD) di Kota Bandung.

Kemudian ia memulai merambah jualan online menggunakan media sosial. Dari sini kesuksesannya mulai muncul hingga bisa mendapatkan omzet Rp 3 hingga 4 juta per bulan, saat ini omzetnya bahkan bisa mencapai Rp 200 juta per bulan.

Saat ditemui di kediamannya, Selasa (28/1/2020), pria lulusan Unikom Bandung itu menceritakan perjuangannya hingga menjadi sukses dalam bisnis tali yang hanya menggunakan tali temali ini.

"Kalau hobi kerajinan ini sejak kuliah, tapi waktu itu masih pakai bahan yang lain. Tahun 2013 baru coba pakai bahan paracord, tapi memang belum terlalu buming bahannya," ujarnya.

Tersangka Kasus Sunda Empire Ditetapkan Sore Ini, di Mapolda Jabar Sudah Disiapkan Jumpa Pers

Dua tahun kemudian, tepatnya tahun 2015, ayah dari dua anak itu memberanikan diri terjun ke bisnis kreasi dari bahan paracord. Bisnis ini ia mendapat masukan dari temannya.

Merlin Sukmayadin
Merlin Sukmayadin (Tribunjabar/Hilman Kamaludin)

Ia mengatakan, untuk membuat kerajinan menggunakan tali paracord harus diimpor dari luar negeri karena untuk di Indonesia belum ada perusahaan yang memproduksi bahan baku tersebut.

"Waktu itu saya belanja modalnya Rp 5 juta untuk ongkos kirim sama bahan dari Cina dan dapat 1 box bahan dan mendapat omzet Rp 3-4 juta per bulan," katanya.

Dua tahun kemudian, atau akhir tahun 2017 keberuntungan mulai dia dapatkan setelah mendapat pesanan secara Cash on Delivery (COD) di dekat sebuah toko perusahaan outdor Kota Bandung.

Halaman
12
Penulis: Hilman Kamaludin
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved