Musim Hujan, Perajin Bata Merah Tradisional Hanya Kantongi Rp 750 Ribu per Bulan

Selama musim hujan, produksi bata yang dikerjakan para perajin bata tradisional menurun. Penurunan produksi bata tersebut karena pembuatan bata menjad

Musim Hujan, Perajin Bata Merah Tradisional Hanya Kantongi Rp 750 Ribu per Bulan
Tribun Jabar/Seli Andina
Perajin batu bata merah di Desa Ciptasari, Kecamatan Pamulihan, Sumedang 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Seli Andina Miranti

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Selama musim hujan, produksi bata yang dikerjakan para perajin bata tradisional menurun.

Penurunan produksi bata tersebut karena pembuatan bata menjadi lebih lama dibanding pada Musim Kemarau.

Ini dibenarkan salah seorang perajin bata tradisional di Desa Ciptasari, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Omo (74), ketika ditemui di tempak pembuatan bata miliknya, Kamis (23/1/2020).

"Dari yang biasanya sampai Rp 20 ribu buah, kalau musim hujan hanya Rp 10 ribu saja sudah banyak," ujarnya.

Warga Tamansari Tidak Serta Merta Dapat Sertifikat Hak Kepemilikan Rumah Deret, Ini Syaratnya

Bata merah buatannya, Omo mengatakan, dihargai Rp 500 per buah oleh para pembeli yang kebanyakan merupakan pemborong atau bandar.

Ketika bisa memproduksi 20 ribu buah bata merah, maka tempat bata merah produksinya bisa mendapat Rp 10 juta.

Kini ketika musim hujan, dirinya hanya memproduksi sekitar 10 ribu buah bata, maka yang dapat diperoleh pun hanya sekitar Rp 5 juta.

"Itu pun paling yang bisa dibawa pulang ke rumah untuk makan hanya Rp 1 Juta sampai Rp 750.000. Kan dipotong biaya produksi dan upah pekerja lain," ujarnya.

3 Hari Hilang, ABK Indramayu Ditemukan Mengambang di Laut Lepas

Penulis: Seli Andina Miranti
Editor: Theofilus Richard
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved