WAWANCARA KHUSUS Soal Sunda Empire dan Kerajaan Lain, Paguyuban Pasundan: Mimpi di Siang Bolong

Bermunculannya "kerajaan-kerajaan" baru di Tanah Air, beberapa waktu terakhir, bukan saja menggegerkan, melainkan sudah mulai meresahkan.

Tribun Jabar/Syarif Pulloh Anwari
Ketua Paguyuban Pasundan, Didi Turmudzi. 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Bermunculannya "kerajaan-kerajaan" baru di Tanah Air, beberapa waktu terakhir, bukan saja menggegerkan, melainkan sudah mulai meresahkan.

Berawal dari kemunculan Keraton Agung Sejagat di Purworejo, dilanjutkan Sunda Empire di Bandung, dan terakhir, Kesultanan Selacau di Tasikmalaya.

Beragam tanggapan bermunculan dari berbagai kalangan, mulai dari budayawan, pemerhati sejarah, hingga akademisi. Salah satunya dari Ketua Umum Pengurus Besar Paguyuban Pasundan, Prof Dr H M Didi Turmudzi Msi, yang juga menjabat sebagai Direktur Program Pascasarjana Unpas.

Didi mengatakan, terdapat perbedaan antara organisasi Kesultanan Selacau Tasikmalaya, dengan dua organisasi lainnya yaitu, Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire.

Berikut petikan wawancara jurnalis Tribun Jabar, Cipta Permana, dengan Didi Turmudzi di Kantor PB Paguyuban Pasundan, Jalan Sumatera, Bandung, Senin (20/1).

BAGAIMANA tanggapan Bapak mengenai munculnya "keraton-keraton" baru akhir-akhir ini?

Saya melihat kondisi ini merupakan fenomena umum yang biasa terjadi di masyarakat berbagai daerah. Hanya saja terdapat perbedaan antara tujuan dari organisasi Kesultanan Selacau Tasikmalaya, dengan dua organisasi lainnya yaitu, Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire. Intinya, mereka itu 'ngawawaas' atau merindukan kondisi kerajaan dengan kekayaan yang melimpah ruah di zaman dulu, berdasarkan budaya atau cerita yang berkembang secara turun temurun.

Menurut Bapak, apa motif sebenarnya mereka mendirikan organisasi baru seperti ini?

Kalau diamati, motif sebenarnya dilandasi faktor ekonomi, dengan fantasi aset masa lalu. Jadi seperti mimpi di siang bolong, di mana sesuatu hal yang mereka pikir dapat terjadi, tapi akhirnya malah 'pikiraneneun' masyarakat luas karena memang hal ini bisa meresahkan.

Tapi, bisa jadi, hal ini dipicu adanya keinginan untuk mencari pengakuan dari masyarakat luas, dengan membuat identitas kolektif, untuk menutupi kekurangan atau kegagalan dari upaya yang ingin diwujudkannya.

Petinggi Sunda Empire Sebut Ridwan Kamil Memalukan Karena Tidak Paham Sunda Empire

Halaman
123
Penulis: Cipta Permana
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved