Soal Keraton Agung Sejagat, Gubernur Jateng Mengaku Terkesan dengan Baju Raja, Mau Cari Penjahitnya

Ganjar justru memuji pakaian yang digunakan oleh beberapa kerajaan yang sempat viral beberapa waktu belakangan.

Soal Keraton Agung Sejagat, Gubernur Jateng Mengaku Terkesan dengan Baju Raja, Mau Cari Penjahitnya
IST/Facebook
Pemimpin Keraton Agung Sejagat Sinuhun Totok Santoso Hadiningrat dan istrinya yang dipanggil Kanjeng Ratu Dyah Gitaraja. 

TRIBUNJABAR.ID - Kemunculan kerajaan-kerajaan baru di Indonesia berhasil menarik perhatian masyarakat.

Terkait hal itu, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo angkat bicara.

Ganjar menuturkan, selama hal tersebut tidak merugikan, bisa dipakai untuk tempat wisata.

"Maka istilah saya itu bukan kerajaan, tapi keraja-rajaan," ujar Ganjar seperti dikutip pada tayangan yang diunggah di kanal YouTube tvOneNews, Senin (20/1/2020).

Ganjar justru memuji pakaian yang digunakan oleh beberapa kerajaan yang sempat viral beberapa waktu belakangan.

"Saya kira kalau itu baju-bajunya masih, desainnya bagus loh."

"Saya aja mau cari itu penjahitnya siapa, yang buat desain bagus juga," terangnya.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo meninjau Rumah Pompa Kali Tenggang di Jalan Nasional, Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (2/1/2020). Dalam tinjauannya, Ganjar memastikan Rumah Pompa Kali Tenggang berjalan dengan baik sehingga bisa mencegah banjir yang ada di kawasan pesisir Semarang Utara. (Tribun Jateng/Hermawan Handaka)
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo meninjau Rumah Pompa Kali Tenggang di Jalan Nasional, Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (2/1/2020). Dalam tinjauannya, Ganjar memastikan Rumah Pompa Kali Tenggang berjalan dengan baik sehingga bisa mencegah banjir yang ada di kawasan pesisir Semarang Utara. (Tribun Jateng/Hermawan Handaka) (TRIBUN JATENG/TRIBUN JATENG/HERMAWAN HANDAKA)

Ganjar lalu menyinggung, jika kerajaan tersebut tidak dihilangkan bisa dijadikan badan usaha milik desa yang dikelola untuk pariwisata.

"Mungkin sebulan sekali ada pawai, naik kuda bayar, kan bagus."

"Jadi tidak ada motif yang lain, memang itu motif seni pertunjukkan begitu," ungkapnya.

Halaman
123
Editor: Ravianto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved